Peneliti Ini Temukan Sabun Mandi Ramah Lingkungan
- VIVA.co.id/Dyah Pitaloka
Menurutnya semua resep, takaran dan campuran dari sabun herbal buatannya telah melalui penelitian detail di BBPP.
Terhalang izin BPOM
Hingga saat ini, resep sabun herbal temuanya banyak diduplikasi oleh ibu-ibu binaan BBPP. Sabun dicetak bulat setebal 2 cm dengan diameter sekitar 3 cm dijual terbatas di lingkungan BBPP dan petani binaan saja. Sabun tak bisa diproduksi secara bebas dan banyak karena terhalang izin dari Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan. Hasil penelitian BBPP yang telah dibuktikan keamanan dan manfaatnya oleh Ajeng tak bisa dijadikan jaminan untuk memproduksi sabun dengan banyak.
“Meskipun diproduksi industri rumahan tetapi izin sabun herbal harus lewat BPOM. Untuk dapat izin syaratnya sangat sulit dan membutuhkan banyak modal layaknya industri besar,” tutur dia.
Selain itu, sabun herbal tersebut juga tergolong mahal jika dibandingkan harga sabun di pasaran pada umumnya. Satu buah sabun herbal dihargai Rp20 ribu. Harga tinggi karena proses produksi yang manual dengan bahan yang juga tak murah. Selain itu produksi yang sedikit juga berimbas pada harga sabun. Satu kali resep membutuhkan waktu sekitar tiga hari dengan menghasilkan sekitar 60 buah sabun.
“Minyak tumbuhan itu yang mahal. Harga itu pun dibuat cukup untuk mengganti modal belanja saja. Jika ada lebihnya digunakan untuk operasional pembuatan sabun. Jadi untungnya bisa membuat dan memakai sabun buatan sendiri,” ujar peneliti berjilbab tersebut.
Ajeng berharap suatu saat sabun herbal bisa diproduksi oleh banyak warga dan terjangkau. Selain aman pada badan sabun tak menggunakan detergen larut dalam air dan tak mencemari lingkungan. Kandungan minyaknya membuat kulit lembab dan tidak mudah kering.
“Kulit yang lembab itu juga dipengaruhi konsumsi sayuran dan air. Jika menggunakan sabun berdetergen kulit akan lebih cepat kering dan membuat kulit mudah menua.”
(mus)