Istiqlal Bisa Jadi Kiblat Peradaban Umat Islam Dunia
- VIVA.co.id/Muhamad Solihin
Maksudnya?
Itu yang pernah saya sampaikan usai pelantikan saat ditanya apa obsesi saya selama menjadi imam besar. Saya bermimpi menjadikan Masjid Istqlal menjadi kiblat peradaban umat islam, bukan hanya Indonesia, bukan hanya asia tenggara juga tapi dunia. Kalau di Makkah menjadi kiblat ibadah umat Islam. Nah, kalau di Istiqlal bisa menjadi kiblat peradaban umat Islam.
Apakah hal itu memungkinkan?
Memenuhi syarat kok. Umat Islam terbesar ada di Indonesia, di Asia Tenggara terbesar juga di Indonesia. Indonesia juga jauh dari konflik yang namanya Israel dan Timur Tengah. Indonesia itu negara mayoritas Islam pertama yang mempraktekkan demokrasi sampai dengan pemilihan kepala negara secara langsung. Mana ada negara Islam yang seperti kita ini. Sesekuler apapun Turki Indonesia lebih terbuka dalam rangka memilih kepala negaranya.
Selain itu?
Kekayaan alam Indonesia luar biasa. Di bawah, di atas ada minyak dalam bentuk sawit, di bawah sawit ada batubara, di bawah batubara ada minyak, gas dan seterusnya. Lautnya terkaya di dunia. Luas wilayahnya juga. Dan paling penting lagi bonus populasi. Usia produktifnya Indonesia kini justru paling bagus, bandingkan dengan Eropa dan Amerika. Mereka itu awet tua. Kita Indonesia populasinya sekitar 60 persen masih usia produktif, bandingkan dengan Amerika 60 persenan usia pensiunan. Kita di Indonesia bonus populasinya betul-betul  satu hal yang sangat menjanjikan. Karenaitu saya terobesesi betul bagaimana menjadikan Masjid Istiqlal ini sebagai peradaban dunia Islam moderat. Bagaimana menjadikan Masjid Istiqlal menjadi simbol umat Islam Indonesia yang mengesankan dan menjadi pusat peradaban. Bagaimana menjadikan Masjid Istiqlal ini menjadi tempat melahirkan produk-produk Islam yang selama ini  kita menjadi konsumen.
Produsen?
Saya ingin umat Islam menjadi produsen pikirannya sendiri. Selama ini pemikiran islam, pemikiran apapun, bahkan IT kita menjadi konsumen. Kita itu umat Islam menjadi konsumen tersebesar saat ini. Kenapa tidak jadi negara produsen. Nah negara produsen itu tidak harus melahrkan teknik atau mesin-mesin, persenjataan dan lain sebagainya. Tapi, Â pikiran pun bisa menjadi salah satu bentuk how to produce, produktivitas umat Islam Indonesia.
Â