Buruh Kantoran di Jakarta Kini Harus Tempuh 40 Km Tiap Hari
- VIVA.co.id/M. Ali. Wafa
VIVA.co.id – Daya tarik perkotaan bagi masyarakat desa kini kian menguat. Seperti diketahui bersama, hal ini tentu dipicu oleh dorongan harapan akan pekerjaan yang layak, pendidikan yang tinggi, hingga jabatan yang lebih mapan.
Maka dari itu, urbanisasi dari desa ke kota pun tak dapat dielakkan. Bahkan saat ini, Indonesia disebut telah memasuki era urban age yang ditunjukkan dengan jumlah penduduk perkotaan mencapai 52,3 persen dari seluruh penduduk Indonesia.
Arus urbanisasi diprediksi akan terus meningkat seiring berjalannya waktu. Pelayanan dasar perkotaan seperti infrastruktur perkotaan dan permukiman bersih yang ramah lingkungan tentu selayaknya harus ditingkatkan sebagaimana tujuan New Urban Agenda (NUA) atau agenda baru perkotaan.
Berkaca pada kota Jakarta, pelayanan dasar perkotaan tampaknya mulai tergerus besarnya tingkat arus urbanisasi. Sudah tak asing lagi, istilah kemacetan dan banjir terdengar di setiap sudut ibu kota.
Berbicara mengenai kemacetan, Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Danang Parikesit angkat bicara. Ia mengungkapkan bahwa saat ini rata-rata pekerja di Jakarta menempuh jarak hingga 40 km lebih setiap hari untuk pulang atau pun pergi dari tempatnya bekerja.
"Pekerja di Jakarta rata-rata menempuh jarak 40 km lebih per hari untuk pulang dan pergi dari kantor, kalau dulu yang. Jika dibanding dengan 10 tahun yang lalu, orang cuma butuh 20 km per hari. Jadi ini sudah naik dua kali lipat," kata Danang saat berbincang dengan VIVA.co.id, Jumat 15 Juli 2016.
Besarnya volume kendaraan pun tak lagi dapat ditampung oleh kapasitas jalan. Diungkapkan bahwa masalah kemacetan hanya bisa diselesaikan oleh kesadaran masyarakat untuk menaiki transportasi publik dan peran pemerintah untuk merancang infrastruktur pembangunan transportasi dengan baik.
“Penggunaan angkutan umum, pejalan kaki itu penting, seperti pembangunan MRT itu, bagaimana dikembangkan stasiun dan rumah susun saling berdekatan, sehingga orang tidak lagi tertarik pakai kendaraan pribadi, lalu pengembangan TOD (Transit Oriented Development), jadi ada pengembangan di kawasan stasiun,” kata dia.
Ia menambahkan bahwa ada beberapa solusi untuk merancang agenda perkotaan yakni diantaranya adalah meningkatkan pelayanan transportasi publik dengan lebih baik. Seperti pelebaran pembangunan infrastruktur jalan yang tentunya akan membuat lebih lancar serta mendorong agar pekerja menggunakan transportasi umum.