Ini Potensi Risiko dari Dana Repatriasi Tax Amnesty

Presiden Jokowi saat pencanangan program pengampunan pajak
Sumber :
  • Kris - Biro Pers Setpres

VIVA.co.id – Bank Indonesia menilai ada salah satu potensi risiko dari dana-dana hasil repatriasi program kebijakan pengampunan pajak, atau tax amnesty yang masuk ke Indonesia, jika tidak dikelola dengan baik oleh pemerintah.

img_title Penyebab Dana Repatriasi Seret Mengalir ke Sektor Properti

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juda Agung mengungkapkan, apabila dana repatriasi nantinya tidak tersalurkan kepada sektor investasi, terutama di sektor riil, tentu akan memengaruhi laju nilai tukar rupiah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kejadian tersebut, dikhawatirkan akan seperti periode di rentang tahun 2011-2012, di mana pada saat itu, aliran modal yang masuk ke Indonesia hanya terendap, dan pada akhirnya menimbulkan gelembung.

img_title Harapan Menkeu Sri di Minggu Terakhir Tax Amnesty

"Akhirnya, dana masuk, nubruk di secondary market. Di properti dan aset keuangan," kata Juda dalam sebuah diskusi di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Jakarta, Senin 25 Juli 2016.

Menurut Juda, kesiapan instrumen penampung dana repatriasi yang nantinya bisa langsung disalurkan kepada sektor investasi merupakan hal mutlak yang harus dilakukan, untuk mencegah adanya potensi risiko tersebut.

img_title Tax Amnesty Selesai, Ini Permintaan Sri Mulyani ke Apindo

Sebagai otoritas moneter, BI pun telah mempersiapkan instrumen khusus untuk mengelola dana-dana tersebut. Misalnya, kata Juda, dana repatriasi akan digunakan bank sentral untuk melakukan pendalaman pasar keuangan, sampai dengan memperkuat cadangan devisa.

"Atau, untuk mengurangi eksposure ULN (Utang Luar Negeri) seperti pembayaran ULN korporasi dan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) back to back loans ke dalam negeri, dan debt to equity swap," katanya. (asp)

Gedung Standard Chartered di Jakarta.

Alasan WNI Pemilik Dana Rp18,9 Triliun Transfer ke Singapura

Transfer yang dilakukan 81 WNI ini membuat geger.

img_title
VIVA.co.id
10 Oktober 2017
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut