Menperin Anggap Impor Gas Hanya Solusi Sesaat

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto
Sumber :
  • Mohammad Yudha Prasetya/VIVA.co.id

VIVA.co.id – Opsi impor gas untuk menurunkan harga gas industri yang digulirkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dinilai hanya solusi sesaat.

img_title Menko Airlangga Buka Suara soal IHSG Anjlok dan Rupiah Tembus Rp18.000

Menterian Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, yang dibutuhkan adalah solusi jangka panjang, agar harga gas industri dapat turun.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Adanya impor gas untuk menurunkan harga gas industri, hanya akan berkontribusi terhadap kondisi ekonomi dalam jangka waktu 2-3 tahun saja," ujar Airlangga dalam Trade Expo Indonesia di JIExpo, Rabu 12 Oktober 2016.

img_title Airlangga Tegaskan Jam Kerja Tetap 40 Jam, Usulan 45 Jam Pengusaha Ikuti Aturan

Airlangga mengharapkan, polemik harga gas ini dapat segera selesai dan tidak berlarut. "Persoalan hari ini kami harapkan diselesaikan hari ini, bukan ditunggu di 2019. Karena, ini kebutuhan yang penting," ungkapnya.

Ia menjelaskan, selain hanya bersifat jangka pendek, impor gas tetap membutuhkan infrastruktur tambahan untuk menampung gas yang masuk. Menurutnya, jika ingin impor, pemerintah harus menyiapkan infrastruktur penampungnya, seperti Floating Storage Regasification Unit (FSRU) atau tangki untuk menyimpan gas alam cair.

img_title Airlangga Ungkap Pembagian Kementerian di Bawah Kemenko Hilirisasi Masih Digodok Pemerintah

"Impor itu sebetulnya bagus. Tapi, harus menyediakan FSRU," katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Solusi dari Kementerian ESDM itu dilandasi dari permintaan Presiden Joko Widodo, yang menargetkan harga gas untuk industri turun menjadi US$6 per Million British Thermal Unit (MBTU), dari sebelumnya sekitar US$8-10 per MBTU.

(ren)

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto

Jawaban Menko Airlangga soal MSCI Akan Turunkan Status Saham RI: Biasa Dia Ngancam-ngancam Dikit

Pemerintah menyoroti perkembangan isu Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membuka peluang penurunan status pasar saham Indonesia menjadi standalone market.

img_title
VIVA.co.id
20 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut