Enam Ide Bisnis Tidak Wajar yang Berhasil Sukses
- CNBC
VIVA.co.id – Ada banyak bisnis sukses karena terkenal dengan keunikan dan ciri khas yang dimiliki produk dari bisnis tersebut. Menjalankan sebuah bisnis saat ini, ternyata tidak cukup hanya memiliki modal dan kemauan saja.
Anda perlu mengetahui, akan menjalankan bisnis apa dengan modal yang ada. Selain itu, Anda juga perlu memperhatikan prospek ke depannya bagi bisnis tersebut, apakah bisa bertahan lama atau tidak.
Seiring berkembangnya zaman, ternyata mulai bermunculan beberapa bisnis yang idenya unik, terkesan nyeleneh, tapi tidak dipungkiri hasilnya cukup menguntungkan. Lalu, apa saja bisnis unik yang belum banyak di Indonesia ini?
Siapa tahu, salah satunya bisa Anda jadikan ide bisnis untuk tahun ini. Berikut ini ada enam ide bisnis yang bisa dicoba di Indonesia:
1. Modern toilet restoran
Mendengar kata toilet, mungkin Anda akan merasa jijik, dan itu adalah hal pribadi dari setiap orang yang menggunakannya. Namun, toilet yang satu ini bukanlah seperti kamar mandi atau WC umum, ini adalah sebuah konsep menyajikan makanan yang baru di sebuah restoran.
Â
Seperti yang dilakukan restoran di Taiwan, mereka menggunakan toilet sebagai pengganti piring untuk menyajikan makanan yang dipesan oleh pelanggannya. Modern toilet restoran ini didirikan oleh Wang Zi Wei.
Wang terinspirasi toko es krim yang salah satu wadah es krimnya berbentuk toilet. Hingga saat ini usaha unik tersebut sudah memiliki 12 cabang, salah satunya ada di Hong Kong.
2. Udara segar dalam kaleng
Inspirasi bisnis ini datang dari China. Saat itu, keadaan cuaca di sana sedang memburuk, namun hal tersebut malah dijadikan ajang persaingan bisnis untuk seorang jutawan bernama Chen Guangbiao. Ia menjual udara segar dalam bentuk kaleng.
Dia mengaku bahwa udara segar dalam kaleng tersebut, diambil dari daerah terpencil dan masih murni dari pencemaran udara di kota besar di China. Tidak disangka, bisnis unik ini menghasilkan keuntungan, bahkan di sepuluh hari penjualannya.
Dia berhasil menjual delapan juta kaleng dengan harga per kaleng lima yuan. Di balik keuntungan yang didapat tersebut, sang pengusaha juga menyumbang sebagiannya untuk daerah miskin di China.