Waspadai Dampak Turunnya Nilai Tukar Rupiah
Heri berharap BI terus berkoordinasi secara sinergi dengan kementerian/lembaga terkait guna menjaga kurs rupiah di level psikologis yang tidak berbahaya.
"Kalaupun terjadi pelemahan, tetap bisa terkendali dalam rentang yang wajar dan bersifat jangka pendek.
Heri mengatakan, pemerintah perlu mewaspadai agenda setting terselubung di balik ini. Sebab, jika kita tidak awas maka bisa jadi akan terjebak pada kondisi yang lebih parah lagi. Apalagi, dollar sempat melemah pasca kemenangan Trump. Sesuatu yang tidak terjadi pasca Pilpres AS. Ini agak aneh dan perlu diwaspadai karena akan menyebabkan pengalihan aset yang tidak menentu," katanya.
Masih kata Heri, sebaiknya kondisi politik dalam negeri yang relatif masih labil harus tetap dijaga.
"Tegakan hukum dengan sebaiknya. Jika tidak, maka itu akan beresonansi dengan posisi eksternal yang terlalu baik pasca Pilpres AS,”ujarnya.
Dengan adanya kondisi politik yang relatif labil itu, kata Heri maka klaim pemerintah bahwa Indonesia telah mencapai pertumbuhan ekonomi nomor 3 di dunia hanya jadi ‘pepesan kosong’ di tengah perlambatan ekonomi dunia yang bergerak antara 2.5 persen-3.0 persen, karena selama ini pun dari rezim ke rezim pergerakan sektor sudah riil ada diangka 5.0 persenan.
"Belum lagi, rontoknya rupiah akan berdampak luas pada performa ekspor yang sudah menurun, meningkatnya beban pembayaran bunga utang, sehingga stimulus untuk membangkitkan ekonomi riil akan tersendat," ujarnya. (webtorial)