Kadin Pesimistis TPP, Perlu Alternatif Pasar Ekspor

Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Perkasa Roeslani.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Muhamad Solihin

VIVA.co.id – Terpilihnya Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat menimbulkan kekhawatiran pelaku usaha lantaran kebijakan Trump yang kurang bersahabat terhadap perekonomian global. Salah satunya, kebijakan Trump yang akan mengkaji kembali sejumlah kerja sama perdagangan antarnegara, khususnya Trans Pacific Partnership (TPP).

img_title Pacu Ekspor Nasional, Pemerintah Incar Total Transaksi US$17,5 Miliar di TEI 2026

Menurut Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan P Roeslani, pesimistis kemungkinan TPP bisa dijalankan maka perlu mencari alternatif lain yang dapat digunakan sebagai akses mempermudah perdagangan internasional.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"TPP sekarang ini motornya AS, dan dilihat kebijakan Trump, kelihatan TPP susah berjalan," ujarnya di Hotel Sari Pan Pasific Jakarta, Senin, 21 November 2016.

img_title BPS Sebut Seruan Boikot Produk Israel Tidak Signifikan Pengaruhi Kinerja Perdagangan

Selain itu, Rosan mengaku beberapa pengusaha di negara lain juga pesimis TPP akan berjalan baik. "Saya baru kembali dari Australia, pengusaha di sana  bilang TPP is dead, finish (TPP mati, tamat)," tuturnya.

Dengan demikian, dia mengimbau, agar Indonesia bisa mencari pasar lain. Lantaran masih banyak pasar yang bisa didapatkan dalam mendorong tingkat ekspor Indonesia.

img_title Bea Cukai Dukung Perdagangan Internasional Melalui Program AEO

Indonesia sendiri, kata Rosan, sedang menjalin beberapa kerja sama perdagangan dengan Australia, dan beberapa negara yang ada di Eropa. "TPP melemah, perdagangan bebas dengan negara lain yang harus kita dorong," ujarnya.

Ilustrasi ekspor impor.

Ekspor Indonesia Tumbuh 4,43 Persen, Logistik Jadi Kunci Pelaku Usaha Tembus Pasar Global

Ekspor Indonesia kini tumbuh 4,43 persen pada Januari–Juli 2026. Dukungan logistik internasional menjadi salah satu kunci ekspansi bisnis ke pasar global.

img_title
VIVA.co.id
15 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut