Batal Ikut TPP, RI Baiknya Kaji Proteksi Usaha Dalam Negeri 

Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Anhar Rizki Affandi

VIVA.co.id – Sejak Donald Trump menyalonkan diri menjadi presiden Amerika Serikat, kontroversi terus bergulir terkait idealismenya yang dinyatakan di setiap kesempatan berkampanye. 

img_title Pacu Ekspor Nasional, Pemerintah Incar Total Transaksi US$17,5 Miliar di TEI 2026

Sehari setelah menjabat sebagai presiden terpilih AS, Trump pun menciptakan polemik tersendiri kepada beberapa negara, karena pernyataannya yang menarik AS dari perjanjian perdagangan global kemitraan trans-pasifik atau Trans Pacific Partnership (TPP). 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ketua Komite Tetap bidang BUMN Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Irwan Marbun mengatakan  tidak ada ruginya buat Indonesia mengikuti jejek AS karena menurutnya Indonesia belum cukup siap untuk menerima kebijakan yang ada di TPP. 

img_title BPS Sebut Seruan Boikot Produk Israel Tidak Signifikan Pengaruhi Kinerja Perdagangan

Selain itu, Indonesia juga belum resmi terdaftar dalam keanggotaan TPP dan statusnya hanya masih mendapat tawaran dari Barrack Obama saat itu. Hal ini pun didukung dengan industri Indonesia yang dinilai belum cukup tangguh untuk menerima arus masuk asing di dalam negeri. 

"Kalau menurut saya Indonesia jangan terlalu bebaslah. Kita juga perlu melihat kemampuan industri yang ada, itu (perdagangan bebas) jangan terlalu dibuka (ke dalam negeri)," kata Irwan saat ditemui di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta pada Kamis, 24 November 2016.

img_title Bea Cukai Dukung Perdagangan Internasional Melalui Program AEO

Penarikan diri AS dari TPP, menurutnya dapat menjadi momen bagi Indonesia berfikir mengenai proteksi usaha dalam negeri, karena ia menilai pemerintah masih kurang memproteksi usaha dalam negeri, dibandingkan negara-negara lainnya. 

"Kita perlu proteksi juga. Negara lain proteksi juga kok. Mana ada negara lain yang enggak proteksi," ujarnya. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia mencontohkan soal proteksi bisa dilakukan pada industri tekstil yang belum siap menghadapi strategi persaingan global. Sebab selama ini hasil industri tekstil Indonesia sudah bagus. Namun, kalah bersaing dengan produk China di negeri sendiri. 

"Seperti industri tekstil Indonesia yang baik, tapi produk tekstil impor China banyak yang digunakan di dalam negeri, seperti usaha garmen. Alasannya dengan harga murah. Padahal biaya impor dari China untuk masuk ke Indonesia. Tapi, tetap saja masih murah. Ini kan berarti ada bantuan tertentu dari negara China untuk industrinya," ucapnya. 
 

Ilustrasi ekspor impor.

Ekspor Indonesia Tumbuh 4,43 Persen, Logistik Jadi Kunci Pelaku Usaha Tembus Pasar Global

Ekspor Indonesia kini tumbuh 4,43 persen pada Januari–Juli 2026. Dukungan logistik internasional menjadi salah satu kunci ekspansi bisnis ke pasar global.

img_title
VIVA.co.id
15 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut