Modernland Buka 'Pintu' Bagi Mitra dengan Track Record Baik
- Istimewa
VIVA.co.id – PT Modernland Realty Tbk, mengaku bahwa saat ini, perseroan terbuka terhadap mitra terkemuka dengan track record yang baik untuk mencapai pasar konsumen yang lebih luas dan meningkatkan penetrasi pasar atas produk-produk yang dikembangkan.
“Contohnya Astra Land Indonesia, adalah kombinasi dengan PT Astra International Tbk, salah satu perusahaan terbaik di Indonesia. Kemudian, dengan Hongkong Land Group Limited, pengembang properti terkemuka di Asia. Modernland percaya bahwa kombinasi ini akan menghasilkan sinergi yang luar biasa," ungkap Chief Financial Officer Modernland Realty, Freddy Chan, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu 26 November 2016.
Menurut Freddy, dengan masuknya Hongkong Land, merupakan hal yang sangat baik bagi industri properti dan perekonomian Indonesia secara umum. Karena itu, ia berharap, dengan banyaknya program pemerintah yang mendorong percepatan pemulihan makro ekonomi, nantinya dapat membuat pertumbuhan yang signifikan bagi dunia properti dalam negeri.
“Kami berharap, peluncuran cluster pertama dari proyek kerjasama ini akan bertepatan dengan kondisi makro yang lebih baik, dan pasar properti yang telah mengalami peningkatan di tahun depan,” ujarnya.
Seperti diketahui, di 2017, diyakini sebagai salah satu tahun terpenting bagi industri properti di Indonesia. Sikap optimistis tersebut, seiring kebijakan pemerintah yang memberlakukan kebijakan tax amnesty, atau pengampunan pajak dengan target mendatangkan dana segar melalui repatriasi ke dalam negeri.
Di kalangan pengembang, beleid ini tentu tak ubahnya seteguk tonik, karena dianggap dapat memicu bertumbuhnya sektor properti dalam negeri, yang memang sejak empat tahun terakhir bak ”lemah pucuk” akibat melambatnya makro ekonomi nasional.
Terlebih lagi, pengampunan pajak diyakini sangat berpengaruh bagi para pengembang untuk bisa terus berhubungan dengan investor. Maklum, selama ini para investor terkesan enggan menanamkan modalnya di Indonesia karena pajak properti yang terlalu tinggi.
Sejumlah praktisi properti meyakini, jika lebih dari 50 persen dana dari pengampunan pajak bakal diinvestasikan ke properti, mengingat perilaku investor yang selalu memilih properti sebagai instrumen investasi dibanding emas, valuta asing, reksa dana dan beberapa instrumen lainnya.