Komisi X Undang Mendikbud Terkait Moratorium UN

Ketua Komisi X DPR RI Teuku Riefky Harsya
Sumber :

VIVA.co.id – Belakangan ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) menyampaikan usulan rencana moratorium Ujian Nasional (UN). Berbagai alasan disampaikan oleh Mendikbud, yang salah satunya adalah agar orang tua tidak perlu stress tahunan karena adanya UN.

img_title Mendikdasmen Beri Sinyal Akan Ada Ujian Nasional Kembali pada Tahun 2026

Terhadap kebijakan moratorium UN tersebut, Komisi X DPR RI menyatakan bahwa proses penetapan kebijakan moratorium UN terkesan tiba-tiba dan tergesa-gesa tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan Komisi X DPR RI. Dengan kebijakan ini, para pemangku kepentingan dari 34 Provinsi dan 516 Kab/Kota menanyakan langsung ke Komisi X DPR RI.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Salah satu pertimbangan moratorium UN yang disampaikan Mendikbud adalah agar orang tua tidak perlu stress tahunan karena adanya UN. Padahal, bila disimak secara mendalam, pemangku kepentingan pendidikan mengalami stress bulanan karena adanya kebijakan Mendikbud,” kata Ketua Komisi X DPR RI Teuku Riefky Harsya, Selasa 29 November 2016.

img_title Wacana UN Diberlakukan Kembali, Ini Kata Mendikdasmen Abdul Mu'ti

Sejak dilantik tanggal 27 Juli 2016, lanjutnya, paling tidak selama empat bulan ini ada lima kebijakan Mendikbud yang membuat stress bulanan yaitu full day school, sertifikasi guru akan diganti dengan program baru yang disebut dengan resonansi finansial, merevitalisasi komite sekolah dengan wajah baru dengan nama Badan Gotong Royong Sekolah, ingin merombak K13, dan yang terakhir moratorium UN. Jadi, bukan lagi stress tahunan tetapi stress bulanan.

“Komisi X DPR RI akan mengundang Mendikbud pada hari Kamis tanggal 1 Desember 2016 untuk meminta penjelasan secara langsung terkait dengan rencana moratorium UN. Komisi X (Pendidikan-red) ingin mendapatkan penjelasan secara komprehensif mulai dari apakah moratorium UN sudah didahului kajian dari sisi filosofis-yuridis-dan sosiologis dan bagaimana hasil kajiannya, apakah proses pengambilan kebijakan moratorium UN sudah melibatkan para pemangku kepentingan, bagaimana rencana realokasi anggaran UN tahun 2017, bagaimana langkah mendatang terhadap evaluasi peserta didik dan satuan pendidikan secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistemik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan,” kata Politisi dari Dapil Aceh ini.

img_title UN, PPDB Zonasi, Kurikulum Merdeka Belajar, Akan Dikaji Menteri Mu’ti dan Minta Masukan Daerah

Komisi X, kata Teuku Riefky, akan menyerap aspirasi pada saat masa reses bulan Desember 2016 baik secara kunjungan kerja (kunker) Komisi maupun kunker perorangan. Kebijakan moratorium UN ini, tambah Teuku Riefky, merupakan isu penting karena melibatkan banyak pihak yaitu 34 Provinsi, 516 kabupaten/kota, melibatkan 7.662.145 peserta didik (belum peserta didik di bawah naungan Kemenag), dan alokasi anggaran yang sudah anggarkan mendekati Rp500 miliar.

“Kami meminta Pemerintah untuk tidak menambah kegaduhan dengan tidak mengeluarkan kebijakan pendidikan yang menjadi gaduh pendidikan. Alangkah baiknya kebijakan pendidikan nasional yang akan diputuskan sudah melalui proses yang matang, dan diputuskan pada saat situasi dan kondisi yang sebagian besar pemangku kepentingan sudah memahaminya,” kata Politisi Demokrat ini.  (webtorial)

Sejumlah siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di SMP N 2 Sukaraja, Bogor, Jawa Barat

Kemendikdasmen Ubah Ujian Nasional Jadi TKA, Tapi Bukan Standar Kelulusan

Ujian Nasional (UN) kini resmi digantikan dengan Tes Kemampuan Akademik (TKA), yang akan mulai diterapkan pada November 2025 untuk siswa kelas 12 SMA/SMK.

img_title
VIVA.co.id
25 Februari 2025
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut