08-02-1904: Rusia-Jepang Makin Panas
- www.pinterest.com
VIVA.co.id – Hari ini 113 tahun silam. Rusia tolak keinginan Jepang membagi pengaruh di Manchuria, China, dan Semenjung Korea. Hal ini kemudian memantik terjadinya konflik terbuka kedua negara dua hari kemudian.
Mengutip situs History, perang terbuka dimulai ketika Angkatan Laut Jepang meluncurkan serangan ke Pelabuhan Arthur dan Jazirah Liaodong, keduanya di China, serta jalur rel dari pelabuhan tersebut ke kota Harbin.
Pelabuhan Arthur merupakan Pangkalan Angkatan Laut terbesar milik Rusia di China. Akibat serangan mendadak Jepang itu, armada Rusia hancur.
Perang ini sendiri berlangsung cukup singkat, 10 Februari 1904-5 September 1905. Dalam perang ini, Jepang berhasil menaklukkan Rusia dengan tiga kali penyerangan. Ditandai dengan berhasil direbutnya Pelabuhan Arthur pada Januari 1905 oleh Laksamana Heihachiro Togo.
Selanjutnya, pada Maret pasukan Rusia dikalahkan di Shenyang, China, oleh Marsekal Iwao Oyama, serta pada Mei, Armada Baltik Rusia di bawah Laksamana Zinovi Rozhdestvenski berhasil dihancurkan dekat Kepulauan Tsushima.
Ketiga kekalahan besar Rusia ini seperti membuktikan bahwa Jepang tidak bisa dipandang sebelah mata. Pada Agustus 1905, Presiden Amerika Serikat, Theodore Roosevelt, bersedia memediasi perjanjian perdamaian di Portsmouth, New Hampshire.
Kemenangan Jepang atas Rusia ini menandai bangkitnya kekuatan Asia untuk menandingi kekuatan Barat yang berkuasa di China kala itu. Kemenangan ini juga membuat Barat harus memperhitungkan Jepang dalam urusan geopolitik di Asia.
Selain itu, kemenangan ini memicu kebangkitan nasional di negara-negara Asia lainnya yang sedang terjajah oleh negara Eropa. Ini membuat negara-negara Asia berpikir bahwa negara-negara di Asia dapat sejajar dengan negara-negara Barat.
Kekalahan ini disebut-sebut sebagai awal dari memburuknya dukungan rakyat Rusia terhadap Tsar Nicholas II. Kekuasaan Nicholas dijatuhkan dalam Revolusi Bolshevik yang dipimpin Vladimir Lenin, yang membuat dia dan seluruh keluarganya dihukum mati di depan rakyatnya sendiri.