Komandan Angkatan Laut AS Laksamana Muda Don Gabrielson

Amerika dan RI Bangun Kepercayaan dengan Latihan Militer

Laksamana Muda Don Gabrielson, Komandan Gugus Tugas 73 Angkatan Laut AS, yang beroperasi di Asia Tenggara dan bermarkas di Singapura. Dia diwawancara VIVA.co.id di Jakarta, 27 Februari 2017.
Sumber :
  • VIVA.co.id / Dinia Adrianjara

VIVA.co.id – Kerjasama militer merupakan salah satu hal yang menonjol dalam hubungan Indonesia - Amerika Serikat.  Salah satu kerja sama rutin yang digarap militer AS dan TNI adalah Kerja Sama Kesigapan dan Pelatihan Maritim (CARAT). Ini latihan tahunan militer AS dan Tentara Nasional Indonesia, yang sudah 22 kali dilakukan sejak 1995. Terakhir kali berlangsung pada 3-8 Agustus 2016.

CARAT adalah latihan rutin antara militer AS dan TNI Angkatan Laut yang mencakup sejumlah bidang, di antaranya peperangan anti-kapal selam, operasi tempur terbatas, dan patroli maritim. Di ajang itu, personel militer kedua negara juga bertukar pikiran dalam seminar dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial. Lebih dari 500 personel militer AS terlibat dalam program CARAT di Indonesia.

Komandan Gugus Tugas 73 dari Angkatan Laut AS, Laksamana Muda Don Gabrielson, memastikan bahwa latihan militer AS dan TNI tahun ini tetap dilanjutkan. Latihan ini perlu dilanjutkan kedua pihak mengingat maraknya sejumlah ancaman non-konvensional belakangan ini, seperti perompakan, penangkapan ikan ilegal dan kejahatan trans-nasional lainnya.

Bagi Gabrielson, Indonesia merupakan salah satu mitra yang sangat strategis bagi AS dalam mempertahankan stabilitas dan keamanan di kawasan Pasifik sebelah barat. Itulah sebabnya, membina dan mengembangkan kerjasama militer dengan Indonesia merupakan tugas pokok Gabrielson sebagai Komandan Gugus Tugas 73 Angkatan Laut AS, yang melingkupi wilayah operasi Asia Tenggara.

Gugus Tugas 73 ini merupakan bagian dari Armada Ketujuh Angkatan Laut AS dan berlokasi di Singapura. Salah satu perwira yang memiliki karir cemerlang di Angkatan Laut AS, Gabrielson pada 27 Februari 2017 berkunjung ke Jakarta dan mengungkapkan kepada tim VIVA.co.id mengenai kerjasama dan tantangan bersama yang dihadapi militer Indonesia dan AS belakangan ini.

Dia juga bercerita panjang lebar mengenai latihan militer AS dan TNI, yaitu CARAT, yang tetap dilanjutkan tahun ini. Berikut petikan wawancaranya.      

Anda beberapa kali berkunjung ke Indonesia. Apakah ada agenda khusus yang dibawa pada kunjungan kali ini?

Ada dua hal. Pertama, untuk memperingati 75 tahun Pertempuran di Laut Jawa semasa Perang Dunia Kedua, demi mengenang mereka yang gugur dalam peperangan itu. Kedua, adalah kami datang memenuhi undangan Pemerintah Indonesia menghadiri konferensi yang terkait dengan keamanan maritim. Kita akan berbagi pandangan mengenai situasi-situasi aktual yang tengah berkembang.

Setiap tahun ada sedikitnya 200 kerjasama militer antara AS dan Indonesia. Salah satunya adalah Latihan Militer CARAT (Cooperation Afloat Readiness and Training). Bisa Anda jelaskan mengenai latihan gabungan itu dan apakah terus berlanjut tahun ini?

CARAT adalah program latihan tahunan yang telah berlangsung cukup lama. Ini adalah model latihan yang bersama kami dengan negara-negara mitra, salah satunya dengan Indonesia demi mengembangkan kemampuan mereka sesuai dengan kebutuhan.

Indonesia telah berpartisipasi dalam rangkaian program CARAT ini. Sudah 22 tahun kami menggelar latihan CARAT secara rutin dengan Indonesia. Jadi, latihan tersebut akan berlanjut lagi tahun ini.

Baik kami maupun TNI akan bersama-sama lagi berlatih, baik di laut dan darat. Lalu juga bertukar gagasan, dan lain sebagainya.

Kapan dan di mana CARAT tahun ini akan berlangsung?

Direncanakan berlangsung awal September 2017 di Jawa bagian timur, dekat lepas pantai Surabaya.

Berapa lama latihan gabungan ini akan berlangsung?

Ini akan berlangsung sekitar tujuh hingga sepuluh hari. Namun saat ini, kita pun sedang merencanakan untuk menggelar latihan lagi tahun depan. Namun, perencanaan latihan ini perlu pertimbangan yang matang dari masing-masing pihak, karena biasanya memakan biaya yang cukup besar bila menggelar latihan secara bersamaan di laut dan darat.

Apa saja kekuatan yang dikerahkan militer AS dalam latihan CARAT tahun ini?

Kami akan melibatkan setidaknya dua kapal Angkatan Laut AS. Mungkin dari pihak TNI kurang lebih sama.

Apakah terjadi peningkatan signifikan dari latihan CARAT antara Indonesia dan AS baik secara kualitas dan kuantitas dari tahun ke tahun?

Ya, kami menyaksikan perubahan yang signifikan dari negara-negara mitra dalam meningkatkan mutu dan kompleksitas latihan dan ini disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing. Kami terus meningkatkan kualitas dan kompleksitas latihan bersama yang mencerminkan sejauh mana investasi dan kerjasama militer kami dengan Indonesia, kami menyambut baik hal ini dan menyesuaikan apa yang diperlukan oleh negara. Sangat penting bagi kita untuk melakukan semuanya dengan benar.

Laksamana Muda Don Gabrielson Komandan Gugus Tugas 73 AL AS

Komandan Gugus Tugas 73 dari Angkatan Laut AS, Laksamana Muda Don Gabrielson, (kiri) saat diwawancara VIVA.co.id di Jakarta, 27 Februari 2017. (Foto: VIVA.co.id / Dinia Adrianjara)

Tentunya CARAT tidak sekadar latihan militer saja. Apa makna lain yang bisa dipetik dari program ini?

Bagi saya, latihan militer CARAT antara Indonesia dengan AS lebih dari sekadar latihan semata. Latihan ini juga membangun hubungan kepercayaan, yang bisa meningkatkan lebih banyak kerjasama lainnya di masa mendatang.

Banyak sebenarnya kegiatan yang kita lakukan. Tapi apa yang ingin kita capai dalam kerjasama ini adalah menciptakan kepercayaan dan kemitraan yang memungkinkan bekerjasama di masa depan.

Misalnya melalui hubungan antar-individu. Sehingga beberapa tahun ke depan, kalau kita berjumpa, kita ingat bahwa kita pernah bersama tergabung dalam operasi militer ini. Jadi tujuan kami adalah ingin membangun ikatan yang lebih erat.

Gugus Tugas yang Anda pimpin memiliki kapal perang canggih tipe LCS (Littoral Combat Ship), USS Coronado. Apakah USS Coronado akan terlibat dalam latihan gabungan tahun ini?

Coronado akan berada di sini untuk CARAT dan itu adalah kapal yang memiliki kemampuan sangat baik untuk jenis misi yang akan dilakukan dengan Indonesia. Kapal ini juga baru saja menyelesaikan patroli anti pembajakan di Laut Sulu.

Kekuatan sebenarnya dari kapal ini adalah memiliki kemampuan untuk mengkonfigurasi secara sangat cepat. Sebanyak 60 persen dari kapal ini biasanya kosong dan siap untuk membawa kontainer atau sistem lain di kapal untuk menyesuaikan misi yang akan dilakukan. Jadi ini kapal dengan kemampuan yang besar.

Berlanjut ke...Ancaman Bersama

Para Menteri Persiapkan Diri Hadapi Perang Dagang dengan AS

Ancaman Bersama
 

Menurut Anda, apa tantangan atau ancaman yang harus diwaspadai Indonesia maupun Amerika akhir-akhir ini?

Soal Perang Dagang dengan AS, Mendag Ingin Duduk Bersama

Yang paling besar jelas ancaman fisik. Tapi ini, tentu saja bukan jenis ancaman yang kita hadapi sehari-hari.  Yang kita inginkan tentu adanya stabilitas dan apa yang dilakukan dengan CARAT adalah untuk kembali menegakkan hal itu.

Kita ingin memastikan bahwa setiap negara memiliki hak untuk mengekspresikan kepentingan strategis dan berupaya untuk mendapatkan itu. Pada saat yang sama kita juga menghadapi ancaman trans-nasional, seperti pembajakan, aksi terorisme, dan ancaman lainnya yang terus berkembang seiring dengan bertambahnya populasi dunia.

AS dan Sekutunya Minta RI Tekan Suriah Terkait Senjata Kimia

Beberapa kejahatan lain seperti penangkapan ilegal  juga banyak dijumpai dan itu adalah satu dari banyak tantangan besar di seluruh dunia. Ini terus berkembang dan menjadi tantangan kita bersama.

Apakah Anda juga melibatkan warga sipil dalam pelatihan CARAT mendatang?

Setiap negara memiliki pendekatan yang berbeda. Saya tidak tahu detail dari indonesia tentang yang spesifik organisasi yang akan tergabung di CARAT tahun ini. Tetapi terkadang ada beberapa lembaga luar yang mengamati interaksi ini.

Kapal perang AS USS Coronado

(Kapal perang AS, USS Coronado, akan berpartisipasi dalam latihan gabungan AS dan Indonesia, CARAT, tahun ini. Foto: Reuters)

Militer AS juga memiliki sejumlah kapal rumah sakit. Apakah kapal-kapal itu juga menunjang operasi gugus tugas Anda?

Ya, kita memiliki USNS Comfort dan USNS Mercy, yaitu kapal rumah sakit Angkatan Laut AS yang membantu mengoperasikan kegiatan, kapal yang sangat cepat membantu untuk memberikan bantuan ketika ada bencana. Seperti ketika di bencana Tsunami Aceh 2004, dunia perlu datang bersama-sama secara cepat untuk membantu memberikan bantuan kemanusiaan, membantu bangsa sampai stabilitasnya kembali.

Kapal rumah sakit ini memiliki cara bersama untuk membantu apabila ada kejadian darurat dan menjadi satu bagian dari misi besar kami. Setelah apa yang terjadi di Aceh, kita memulai latihan baru yang lebih serius yang bernama Kemitraan Pasifik dan akan dilaksanakan di Sri Lanka nantinya. Sri Lanka baru bergabung tahun ini. Latihan akan menghabiskan waktu selama beberapa bulan ke depan di sekitar Asia Tenggara.

Kita fokus kepada kegiatan yang saling berkoordinasi antara profesionalitas dan fokus menghadapi bencana. Di saat yang sama juga ada pihak militer dan organisasi non pemerintah yang datang bersama dan melakukan proyek untuk membantu bencana. Mereka membantu komunitas lokal. Indonesia juga berpartisipasi. Ada sekitar enam dari sebelas kegiatan yang diikuti oleh Indonesia dan kami selalu menyambut baik partisipasi itu untuk waktu ke depan.

Indonesia adalah negara yang rawan gempa dan tsunami. Ada kebutuhan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat setempat utk waspada dan antisipasi. Apakah Gugus Tugas Anda juga mendukung program itu?

Bencana alam adalah tantangan trans-nasional yang tidak mengenal batas-batas negara. Itu terjadi kapan saja tanpa mengenal waktu yang baik, bahkan di waktu yang sangat buruk. Kita perlu kepaduan dan memiliki respons cepat. Semua orang harus datang bersama. Negara di kawasan perlu partisipasi bersama dan saya dengar hal ini sudah berkembang sangat baik.

Kerjasama militer yang terjalin selama ini apakah lebih banyak berasal dari permintaan Indonesia, ataukah lebih banyak inisiatif dari Amerika?

Saya pikir ini lebih karena kebutuhan kedua pihak. Kita memiliki lebih dari 200 aktivitas setiap tahun dan bervariasi, dari kerjasama yang kecil sampai dengan teknologi tinggi.

Ada pemahaman dan komunikasi yang sangat baik di sini. Sering kali kedua pihak negara duduk bersama dan membicarakan ide terbaru serta saling menawarkan solusi terbaik untuk setiap tantangan. Kita membicarakan solusi dan ini sangat baik.

Bagaimana pandangan pribadi Anda tentang Indonesia. Apakah stabilitasnya sudah membaik?

Saya pikir Indonesia telah melakukan pekerjaan besar dalam melawan teroris dan kaum radikal. Ada upaya bersama dan saya benar benar senang berkunjung dan bekerja sama disini. Saya pikir semua berlangsung dengan sangat baik.

Laksamana Muda Don Gabrielson Komandan Gugus Tugas 73 AL AS

Bagaimana pendapat Anda dengan konflik di Laut China Selatan, terutama dalam memastikan bahwa kebebasan bernavigasi tetap berlangsung di kawasan itu?

Saya pikit stabilitas dunia adalah kepentingan kami dan itu adalah tujuan utama dari setiap operasi. Kami ingin memastikan ini semua berjalan.

Tentang kebebasan bernavigasi, itu tidak ada unsur politik dan semua dilakukan sesuai dengan hukum internasional. Kami melakukannya dan ingin memastikan semua pihak mendapatkan manfaat.

Kami juga mengajak semua bangsa dan stabilitas adalah kepentingan kita. Kita juga telah melakukan operasi di kawasan Pasifik sejak tahun 1850 dan tidak ada yang berubah. Semua dilakukan dan dilanjutkan, tidak ada yang dikurangi, meski ada pergantian kepemimpinan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya