Dirjen Kereta Api Bingung soal Spesifikasi Hyperloop

Hyperloop One
Sumber :
  • www.hyperloop-one.com

VIVA.co.id – Perusahaan transportasi milik miliuner asal Amerika Serikat, Elon Musk, Hyperloop Transportation Technologies meminati Indonesia sebagai lokasi potensial untuk penerapan sistem transportasi masa depan perusahaan itu.  

img_title Menhub Belum Putuskan Impor KRL Bekas, KAI Targetkan Pengiriman Mulai Akhir 2026

Perusahaan ini mengklaim sedang menjalankan studi kelayakan apakah Indonesia cocok atau tidak untuk penerapan sistem Hyperloop, yang mempunyai kecepatan 750 mil per jam atau sekitar 1.200 kilometer per jam dan digadang-gadang melebihi kecepatan pesawat terbang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kepada VIVA.co.id, Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Prasetyo Boeditjahjono mengaku masih bingung soal spesifikasi dari alat transportasi massal tersebut.

img_title Truk ODOL Jadi Sorotan, Kemacetan Pelabuhan Ketapang Diminta Tak Terulang

"Saya bingung, dia ini berbasis rel atau tidak. Cuma dia dedicated satu kapsul dalam satu pipa, saya enggak ngerti definisinya. Ini apakah termasuk perkeretaapian atau tidak, tapi karena angkutan massal, ya sudah," kata Prasetyo di ruang kerjanya, Jakarta, Kamis 9 Maret 2017.

Ia menjelaskan, perusahaan transportasi itu pernah mengundangnya dua kali terkait penyampaian presentasi di hadapan Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi. Hanya saja, kata dia, pemerintah belum begitu percaya, lantaran proyek triliunan rupiah itu belum memiliki pra studi kelayakan, apalagi studi kelayakan.

img_title Kemenhub Mulai Serahkan Pemenuhan Hak Para Korban KMP Virgo Transport 8 ke Ahli Waris

"Dia pernah presentasi di depan Pak Menteri, saya diundang untuk nemanin. MoU di antara dia-dia ini, saya enggak ngerti. Siapa dengan siapa," ujar Prasetyo.

Ia mengungkapkan, Menhub Budi pernah menanyakan pendapatnya perihal apakah alat transportasi itu layak diterapkan di Indonesia.

"Saya jawab, saya cuma satu pak. Kemarin, sejak ketemu sampai kemarin itu ketemu lagi, belum ada pra feasibility study atau feasibility study,” tuturnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Saya tanya sampai di mana? Dia (Hyperloop) bilang, 'O ndak, setelah ini baru kita pra FS'. Loh, mau ngerjakan proyek triliunan, pra FS-nya saja belum jelas,” kata dia. “Terus kalau enggak jelas mau apa lagi?”

Menurut dia, semua pekerjaan kecil atau besar harus ada pra studi kelayakan atau studi kelayakan.

Ilustrasi penggunaan dry ice untuk urai asap karhutla

48 Bandara Terdampak Kabut Asap Karhutla, 2.458 Penerbangan Terganggu hingga Oktober 2026

Kabut asap karhutla mengganggu 2.458 penerbangan hingga 17 Oktober 2026. Simak daftar bandara terdampak di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

img_title
VIVA.co.id
18 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut