Pembangunan Pabrik Semen Dinilai Tak Merusak Lingkungan
- VIVA.co.id/Daru Waskita
VIVA.co.id – Pengamat Pembangunan Djuni Thamrin berpendapat, ada kontestasi tidak fair dan seimbang dalam menilai kepentingan pembangunan industri semen nasional yang dijalankan oleh BUMN dengan penilaian keselarasan ekologi. Khususnya, dimensi lingkungan yang dikampanyekan oleh para aktivis.Â
Dalam pandangan para aktivis lingkungan, pengadaan semen sebagai salah satu komoditi strategis untuk pembangunan infrastruktur pasti akan merusak dan mengorbankan lingkungan. Pemikiran itu dinilai paradigma lama yang sempit.Â
"Dalam paradigma pembangunan yang berkelanjutan, pembangunan industri semen dapat dilakukan dengan tetap menjaga kelestarian dan keberlangsungan hidup bagi generasi berikut," kata Thamrin dikutip dari keterangan resminya, Sabtu 11 Maret 2017.
Lebih lanjut Thamrin mengatakan, kasus pendirian pabrik semen milik negara di Rembang misalnya, merupakan contoh pembangunan industri semen yang berwawasan lingkungan. Ditinjau dari rencana BUMN itu menjalankan penambangan dan produksinya, pengalaman panjang mereka telah melakukan produksi semen yang ramah lingkungan.Â
Sisa penambangan baru gamping di site Tuban dan Gresik Jawa Timur telah direklamasi kembali yang kemudian ditanami dengan tanaman produktif. Sekarang sudah menjadi hutan, dibandingkan dengan Rona awalnya yang gersang bebatuan.Â
Kemudian, sisa penggalian tanah liat sudah ditransformasi menjadi embung ataupun waduk mini yang dapat memberikan pengairan untuk sawah di sekitarnya dan perikanan tambak terpadu. Produksi tani sawah bahkan dapat dilakukan panen tiga kali per tahun dengan rata-rata produksi 9 ton per hektare gabah kering.
Secara lanskap lingkungan reklamasi dan embung itu membuat pemandangan menjadi asri dan sejuk. Sehingga sangat cocok dijadikan daerah wisata dan olahraga.Â
"Bahkan di Gresik salah satu site penggalian tambang batu gamping untuk industri semen telah dijadikan daerah hijau dan perumahan elite baru," ujarnya membela.
Kekhawatiran kelompok aktivis lingkungan akan hilangnya lokasi sawah mereka dan terjadinya kerusakan lingkungan, kemungkinan tidak akan terjadi. Karena dengan penerapan sistem penambangan yang menggunakan ilmu pengetahuan mutakhir, semua potensi kerusakan sudah dibuatkan mitigasinya.
"Mulai dari penentuan lokasi, cara menambang, manajemen lingkungan, kontrol dan seluruh rangkaian tata kelola telah diperhitungkan secara detail dalam amdal yang kredibel," ungkapnya.Â