Kisah Pemuda 22 Tahun Hentikan WannaCry

Marcus Hutchins
Sumber :
  • www.businessinsider.com

VIVA.co.id – Serangan siber berupa ransomware WannaCry telah menghantam jaringan komputer di dunia. Dampaknya, jaringan di rumah sakit, bank dan instansi pemerintah di berbagai negara dunia terkena virus pemalak tersebut.

img_title 7 Tuntutan BEM SI Kalbar Terkait Karhutla: Minta Perusahaan Bertanggung Jawab hingga Penetapan Bencana Nasional

Beruntungnya, serangan ransomware itu tidak kian meluas, sebab berhasil dihentikan oleh seorang peneliti keamanan muda. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dikutip dari The Guardian, Selasa, 16 Mei 2017, ransomware WannaCry berhasil dihentikan oleh peneliti keamanan berusia 22 tahun, Marcus Hutchins. Awalnya Hutchins enggan namanya dipublikasi sebagai pahlawan karena sukses menghentikan WannaCry. Dia lebih senang namanya ditulis sesuai dengan nama blognya, MalwareTech. 

img_title Transformasi IT Berbasis AI Jadi Solusi Perusahaan RI Menuju Autonomous Enterprise

Berkat tulisannya di blog tersebut, pemuda yang tak lulus kuliah itu direkrut perusahaan keamanan web California, AS. Hutchins mengaku menjadi bloger teknologi sejak meninggalkan bangku sekolah.  

Hutchins yang berasal dari Inggris itu mengaku, dia tak sengaja telah menghentikan WannaCry dengan mengaktifkan tombol 'pembunuh' ransomware tersebut.

img_title Buntut Karhutla, RI Bekukan Izin 6 Perusahaan, Total 32 Korporasi Kini Kena Sanksi

Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris menuturkan, pada awalnya Hutchins secara tidak sengaja menemukan dan mengaktifkan tombol 'pembunuh' yang menghentikan WannaCry pada Jumat, 12 Mei 2017.

Dikutip dari laman Abc, dalam menghentikan serangan WannaCry itu, Hutchins mendapat bantuan dari 20 peneliti keamanan di AS. Hutchins mengungkapkan, awal mula dia menemukan WannaCry dalam blognya pada Sabtu akhir pekan lalu. 

Dia menuliskan, pada Jumat lalu, seusai makan siang dengan temannya, Hutchins kemudian menuju ke kamarnya. Dia kemudian menyadari semua jaringan sistem kesehatan Inggris telah terkena ransomware. 

Hutchins kemudian menganalisis sampel perangkat lunak berbahaya tersebut dan melihat kodenya, termasuk alamat web tersembunyi penyebar ransomware yang tidak terdaftar. Kemudian ia segera mendaftarkan domain penyebar ransomware itu ke domain khusus untuk alamat yang  tak jelas. Dia mendapatkan bayaran US$10,69 untuk menemukan alamat tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Terhentinya ransomware WannaCry itu juga berkat kolaborasi dengan peneliti keamanan lainnya. Saat Hutchins menemukan kode dan alamat web penyebar WannaCry itu, nun jauh di Amerika Serikat, peneliti keamanan berusia 28 tahun, Darien Huss juga sedang menjalankan analisisnya. 

Sama halnya dengan Hutchins, Huss menemukan pembuat WannaCry meninggalkan fitur tombol ‘pembunuh’ tersebut. Huss kemudian menangkap layar temuannya itu dan membaginya di Twitter. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut