BPOM Larang Edar Produk Babi dan Alkohol

VIVAnews - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melarang izin edar produk makanan minuman, kosmetika, dan obat mengandung bahan-bahan tertentu yang dilarang syariah Islam, di antaranya babi dan alkohol.

Hal tersebut termuat dalam Surat Keputusan Kepala BPOM bernomor HK. 00051233516 tentang izin edar produk obat, obat tradisional, kosmetik, makananan, dan suplai makanan yang mengandung bahan tertentu dan atau alkohol.

Direktur Eksekutif Pusat Informasi Produk Industri Makanan dan Minuman (PIPIMM) Suroso Natakusumah menjelaskan, peraturan yang berlaku efektif sejak 31 Agustus 2009 tersebut akan mengancam industri makanan dan minuman.

Dalam peraturan tersebut, dia menambahkan, termuat pasal yang menyebutkan produk makanan minuman tidak boleh mengandung atau berasal dari bahan-bahan tertentu seperti babi, anjing, cacing, bangkai, binatang bertaring, binatang bercakar, burung, lebah, katak, semut, dan lintah.

"Selama ini tidak diatur hal-hal seperti itu. Kalaupun produk yang mengandung babi misalnya, hanya perlu menyebutkan dalam labelnya bahwa ini mengandung babi. Jadi konsumen bisa tahu," kata Suroso di Jakarta, Selasa, 29 September 2009.

Selain itu, dalam poin izin edar obat juga disebutkan bahwa izin akan diberikan jika bersifat darurat. Kedaruratan ini diputuskan oleh lintas sektor yang terdiri dari Depkes, MUI, dan BPOM. "Semestinya ada tim baru yang akan menetapkan hal itu," kata dia.

Bagi produk yang telah beredar sebelum peraturan tersebut berlaku efektif, diberikan waktu satu tahun untuk menyesuaikan diri dan selebihnya jika tidak mematuhi peraturan akan ditarik dan dimusnahkan.

Suroso belum menyebutkan kerugian yang akan ditimbulkan akibat peraturan ini. "Hari Jumat akan diadakan rapat kembali bersama Depperin untuk merumuskan potensi kerugian," kata dia. 

Hari ini, beberapa asosiasi makanan dan minuman mengadakan pertemuan dengan Departemen Perindustrian untuk mengeluhkan hal tersebut. Pengusaha meminta Depperin berkonsultansi dengan BPOM terkait keberatan pengusaha.

hadi.suprapto@vivanews.com