Budidaya Jamur, Gadis Ini Untung Rp30 Juta per Bulan
- VIVA.co.id/Agustinus Hari
Selama proses pembibitan, ruangan harus lembab dan kurang cahaya. Begitupun di ruang inkubasi, ada waterjet, agar bibit jamur tidak kekurangan air.
Untuk satu media, bisa dilakukan hingga tiga kali panen. jamur tiram putih yang dibudidayakannya telah dipasarkan di beberapa supermarket dengan harga Rp85 ribu per kilogram sejak 2015 silam.
Menurutnya, per harinya jamur yang ditanamnya bisa dipanen delapan hingga dua puluh kilo gram.
“Jamur tiram dibungkus dalam sterofoam 200 gram per pak dan dijual Rp15 ribu. Sebulan saya bisa meraup untung Rp20-30 juta,” katanya.
Selain dijual fresh, Inggrid juga mulai memasarkan olahan jamur, salah satunya dalam bentuk kripik. Budidaya Jamur susu pun saat ini sedang dilakukan.
“Lebih banyak produksi yang mentah, karena banyak dicari orang,” kata Inggrid sambil mengatakan, dirinya kini sedang mencoba membudidayakan jamur susu.
Karena banyak permintaan jamur segar, sehingga dirinya membatasi pengolahan keripik jamur. Keripik jamur diolahnya menjadi tiga varian rasa yaitu, jamur tiram ikan roa, pedas dan original.
Keripik jamur produksinya, sudah dipasarkan hingga ke Bali, Padang, Sorong dan beberapa daerah lain. Namun, dia masih menemui kendala dalam promosi.
“Untuk promosi biasanya saya membagikan gratis. Per pak, saya jual Rp20 ribu. Produk ini dijamin halal dan sehat. Torez keripik ini sudah memiliki PIRT (izin) dari Dinas kesehatan,” ujarnya.
Setelah sukses membudidayakan jamur tiram dan keripik jamur, dia berharap bisa berdayakan masyarakat di Mokupa dengan sistem petani plasma.
“Nanti kita suplai media jamur yang siap tumbuh ke mereka. Nah, hasil panennya saya beli. Mudah-mudahan ini bisa menjadi peluang usaha bagi masyarakat,” ungkapnya.