Neurosains Bisa Diterapkan dalam Operasi Antiteror
- VIVA.co.id/Lazuardhi Utama
Contohnya, otak kita terdapat 100 miliar sel saraf dengan jenis bervariasi. Ada sel saraf penghambat, atau disebut inhibitory neuron, ada sel perangsang, atau exitatory neuron.
Keduanya saling berkoneksi, di mana satu sel berkoneksi dengan 10 ribu sinaps, atau jaringan penghubung. Karena itu, kalau ditotalkan 100 miliar x 10 ribu, maka total koneksi yang ada di otak kita adalah 1.000 triliun.
Inilah yang sangat rumit dan membuat otak itu sangat kompleks.
Kaitan penelitian otak dengan radikalisme?
Otak itu mampu menjalankan fungsi yang sangat berat, karena semua sistem tubuh kita. Mulai dari apa yang kita sebut dengan sistem limbik, sistem penglihatan, pengecap, sistem jantung, pankreas, hati, usus, termasuk ginjal, dan sebagainya, dikendalikan oleh otak.
Artinya, struktur 1.000 triliun menentukan fungsi organ tubuh. Berdasarkan tiga struktur yang saya sebutkan – neurogenesis, neurokompensasi dan neuroplasticity – kami mengembangkan cabang penelitian yang berhubungan dengan penyakit otak, misalnya parkinson dan mempelajari tingkah laku manusia (behavior).
Dalam konteks tingkah laku manusia, kami meneliti soal kecemasan, kebahagiaan, serta radikalisme, dan alasan orang memilih menjadi teroris.
Semua aspek neurosains itu bisa dimulai dari hal terkecil sampai terbesar. Inilah yang disebut dengan neurocommunity dan neuroleadership.
Penerapannya tak hanya bisa diterapkan dalam ilmu kedokteran di rumah sakit, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk komunitas, termasuk juga dalam kepemimpinan.
Ada kurang lebih 20 cabang penelitian yang kami kembangkan sekarang ini.
![]()
Densus 88 Antiteror Polri saat penggerebekan lokasi teroris.
Apa penyebab seseorang berubah menjadi radikal?
Tentu, bahasanya eror ya. Di dalam struktur otak yang kompleks, seseorang menjadi radikal sangat tergantung dari input (doktrin) yang masuk. Misalnya, input yang masuk bagaimana kita selalu melihat sesuatu yang jelas.
Contohnya merah. Maka otak akan membaca warna merah itu dengan sensitif. Demikian juga kalau otak kita terindoktrinasi terhadap masalah agama, keyakinan, dan pandangan hidup yang ektrem, lama-kelamaan otak akan menerima.
Pada saat otak mengalami kompensasi bahwa menerima sesuatu yang normal atau diyakini. Proses itulah yang menyebabkan seseorang menjadi ekstrem.