Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D

Neurosains Bisa Diterapkan dalam Operasi Antiteror

Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D
Sumber :
  • VIVA.co.id/Lazuardhi Utama

Contohnya, otak kita terdapat 100 miliar sel saraf dengan jenis bervariasi. Ada sel saraf penghambat, atau disebut inhibitory neuron, ada sel perangsang, atau exitatory neuron.

img_title Pakar: Memimpin dengan Otak, Pekerjaan Hasilnya Akurat

Keduanya saling berkoneksi, di mana satu sel berkoneksi dengan 10 ribu sinaps, atau jaringan penghubung. Karena itu, kalau ditotalkan 100 miliar x 10 ribu, maka total koneksi yang ada di otak kita adalah 1.000 triliun.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Inilah yang sangat rumit dan membuat otak itu sangat kompleks.

img_title Pakai Nuerosains, Iklan Ini Sukses Melantak Emosi Konsumen

Kaitan penelitian otak dengan radikalisme?

Otak itu mampu menjalankan fungsi yang sangat berat, karena semua sistem tubuh kita. Mulai dari apa yang kita sebut dengan sistem limbik, sistem penglihatan, pengecap, sistem jantung, pankreas, hati, usus, termasuk ginjal, dan sebagainya, dikendalikan oleh otak.

img_title Jalani Program Deradikalisasi, 30 Keluarga Teroris Dibawa ke Jakarta

Artinya, struktur 1.000 triliun menentukan fungsi organ tubuh. Berdasarkan tiga struktur yang saya sebutkan – neurogenesis, neurokompensasi dan neuroplasticity – kami mengembangkan cabang penelitian yang berhubungan dengan penyakit otak, misalnya parkinson dan mempelajari tingkah laku manusia (behavior).

Dalam konteks tingkah laku manusia, kami meneliti soal kecemasan, kebahagiaan, serta radikalisme, dan alasan orang memilih menjadi teroris.

Semua aspek neurosains itu bisa dimulai dari hal terkecil sampai terbesar. Inilah yang disebut dengan neurocommunity dan neuroleadership.

Penerapannya tak hanya bisa diterapkan dalam ilmu kedokteran di rumah sakit, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk komunitas, termasuk juga dalam kepemimpinan.

Ada kurang lebih 20 cabang penelitian yang kami kembangkan sekarang ini.

Tim Densus 88 Antiteror

Densus 88 Antiteror Polri saat penggerebekan lokasi teroris.

Apa penyebab seseorang berubah menjadi radikal?

Tentu, bahasanya eror ya. Di dalam struktur otak yang kompleks, seseorang menjadi radikal sangat tergantung dari input (doktrin) yang masuk. Misalnya, input yang masuk bagaimana kita selalu melihat sesuatu yang jelas.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Contohnya merah. Maka otak akan membaca warna merah itu dengan sensitif. Demikian juga kalau otak kita terindoktrinasi terhadap masalah agama, keyakinan, dan pandangan hidup yang ektrem, lama-kelamaan otak akan menerima.

Pada saat otak mengalami kompensasi bahwa menerima sesuatu yang normal atau diyakini. Proses itulah yang menyebabkan seseorang menjadi ekstrem.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut