Penggunaan Smartphone Anak Muda Dinilai Mengkhawatirkan

Pengamat Telekomunikasi dari Mastel Institute, Nonot Harsono.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Adi Suparman

VIVA.co.id – Transisi pengguna handphone dari 2G menuju 4G di Indonesia dinilai belum maksimal. Daerah luar Jawa menjadi kawasan paling banyak pengguna koneksi 2G.

Pengamat Telekomunikasi dari Mastel Institute, Nonot Harsono menjelaskan, kemajuan seluler 2G menjadi 4G membutuhkan waktu minimal lima tahun untuk memudahkan migrasi dengan memaksimalkan ketersediaan handset terjangkau bagi kelas menengah ke bawah.

"50 persen masyarakat masih menggunakan layanan 2G untuk voice dan SMS saja. Segmen masyarakat kita pelajar, mahasiswa, pedagang, kaki lima," ujar Nonot dalam Obrolan Telko 'Memaksimalkan Utilisasi 4G melalui Keterjangkauan Perangkat' di Bandung, Jawa Barat, Selasa 19 September 2017.

Menurutnya, pasokan layanan 4G sampai saat ini masih kecil ditambah dengan rendahnya daya beli masyarakat bawah dan kesadaran butuhnya koneksi 4G untuk kebutuhan. Sampai saat ini belum merata.

Masyarakat, lanjut dia, perlu ada stimulus konkret dalam peningkatan kebutuhannya dengan penggunaan 4G. Misalnya, alat bantu menjalankan bisnis dengan membuat program pembinaan e-UKM disertakan pelatihan literasi teknologi dan subsidi gadget.

"Kira-kira siapa yang butuh internet? Cocok bagi masyarakat yang mana? Saya kira yang generasi muda. Jangan-jangan orang Indonesia sebagian besar belum butuh itu, yang penting bisa komunikasi verbal," katanya.

Mengkhawatirkan

Mantan anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia itu menuturkan, fenomena penggunaan handset di kalangan muda juga turut mengkhawatirkan. Seharusnya, kata dia, penggunaan handset di kalangan muda ini harus jadi pemicu kemajuan penggunaan 4G, bukan malah dampak negatif.

Bangun Jaringan Fiber Optik, Triasmitra Tawarkan Obligasi Rp700 Miliar

"Di era online ini, user segmen yang muda tapi maunya high end, yang middle saja malu. Trafik data cenderung hiburan, belum lagi ada yang merasa gagap teknologi dan enggan mencoba hal yang baru," terangnya.

Untuk mempercepat migrasi itu, menurut Nonot, ketegasan pemerintah sangat diperlukan dengan membuat regulasi untuk menghentikan pemakaian frekuensi 2G.

Syukurlah, Gak Ada PHK di Industri Telekomunikasi Indonesia

"Yang daerah itu hanya betul 2G saja, walaupun beli smartphone. Kalau BTS-nya 2G, ya sinyalnya 2G. Yang Jawa saja yang ramai (4G)," katanya. (ase)

Layanan platform OTT (over the top).

Indonesia Diminta Belajar dari Inggris dan Turki

Indonesia bisa belajar dari Austria, Prancis, Hungaria, Italia, Portugal, Spanyol, Turki, dan Inggris yang telah menerapkan Digital Services Task (DST) untuk layanan OTT.

img_title
VIVA.co.id
28 Desember 2023