Sri Mulyani Terima Gelar Kehormatan dari Sultan Tidore
VIVA – Dalam perjalanan kerjanya ke Ambon dan Ternate, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani dan rombongan berkesempatan mengunjungi Tidore, dimana ia dianugerahkan gelar kehormatan oleh Sultan Tidore.
Kamis, 8 Maret 2018, nampaknya adalah hari yang berkesan bagi Menkeu Sri Mulyani Indrawati. Seusai mengisi Kuliah Umum di hadapan ribuan civitas akademika Unkhair Ternate, ia berlayar di Selat Maitara dari Pelabuhan Ahmad Yani Kota Ternate menuju Pelabuhan PLTU Tidore, dengan menumpang Kapal Patroli Bea Cukai, BC 30007, yang didatangkan dari Pangkalan Sarana Operasi Bea dan Cukai Pantoloan.
Beberapa saat setelah kapal bersandar di Pelabuhan PLTU, dan ia turun ke dermaga, seorang remaja perempuan berlari menyambutnya, sambil berteriak, “Ibu Menteri, tidak saya sangka Ibu bakal menginjak tanah Tidore ini!”
Kedatangan Sri Mulyani disambut oleh ratusan orang anggota keluarga Kesultanan Tidore, Pemkot Tidore Kepulauan (Tikep), dan masyarakat Tidore. Dipandu petugas dari Kesultanan Tidore, Sri Mulyani menjalani prosesi adat Joko Hale, yaitu prosesi adat menginjak tanah. Maknanya adalah memperkenalkan tanah negara Tidore. Prosesi tersebut diperuntukkan bagi tamu-tamu negara.
“Setiap melewati kelurahan, petugas Dinas Pariwisata menjelaskan kepada saya dan rombongan akan hal-hal spesial di daerah itu. Misalnya, Kelurahan Ome mempunyai sebuah pondok pesantren yang merupakan pesantren pertama yang dibangun di Pulau Tidore. Pendiriannya digagas oleh Gubernur Maluku Utara, KH. Abdul Gani Kasuba, Lc. Lalu, di Kelurahan Mareku terdapat sebuah monumen yang pada tahun 1946 bendera merah putih pertama kali dikibarkan di Indonesia Timur di tempat itu. Penjahit bendera Merah Putih saat itu adalah Nenek Aminah yang masih hidup sampai saat ini. Selanjutnya, di Kelurahan Bobo warganya mempunyai ciri-ciri fisik seperti masyarakat Papua. Memang sejarahnya nenek moyang masyarakat Papua tinggalnya di Kelurahan Bobo,” ujar Sri Mulyani.
Sedangkan di Kelurahan Toloa, lanjutnya, tersimpan sejarah dimana Istana Kesultanan Tidore pernah berdiri di sana, disebut Istana Biji Negara yang berarti Istana Anak Negeri. Masyarakat Toloa mempunyai keahlian pandai besi dan keahlian berkebun. Keahlian-keahlian tersebut dulu diajarkan oleh Sultan Tidore kepada mereka. Di Toloa juga terdapat sebuah masjid tua yang disebut Sigi Kolano serta terdapat makam Sultan Ciliriyati.