Bea Cukai Kalimantan Bagian Timur Gelar Forum Diskusi dengan Watimpres

Bea Cukai Kalimantan Bagian Timur Gelar Forum Diskusi
Sumber :

VIVA – Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Kalimantan Bagian Timur (Kalbagtim), Agus Sudarmadi, didampingi seluruh Kepala Kantor Bea Cukai di lingkungan Wilayah Kalbagtim, menyambut kedatangan para anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia (Wantimpres RI), Rabu 25 Juli 2018.

img_title Kasus Pungli, Kejati Banten Sita Rp1,1 Miliar dari Bea Cukai Soetta

Kedatangan para anggota Wantimpres RI tersebut dalam rangka mengadakan kunjungan kerja dan menghadiri forum diskusi yang digelar Kantor Wilayah Bea Cukai Kalbagtim di Aula Banua Caraka Kantor Bea Cukai Samarinda.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Rombongan Wantimpres RI terdiri dari Letjen TNI (Purn) M. Yusuf Kartanegara (anggota Wantimpres), Mayjen TNI (Purn) Mashudi Darto, Mayjen TNI (Purn) Dr. I Gusti Putu Buana SAP, M.Sc, Kolonel LEK Gatot Sutomo, S.T, Shinta Tri Lestari S.H, M.Kn, Ir Amal Witonohadi M.T, Abd. Rahman S.H, Uus Alihusni, dan Andytias D, A.

img_title Rokok Ilegal Senilai Rp6,6 Miliar Disita Bea Cukai Aceh

Dalam forum diskusi yang mengangkat tajuk Optimalisasi Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba untuk Mewujudkan Keamanan yang Kondusif, Letjen TNI (Purn) M. Yusuf Kartanegara, mengatakan luasnya wilayah Indonesia merupakan hal strategis bagi penyelundup narkoba. Sehingga dengan adanya diskusi tersebut, diharapkan Tim Wantimpres mendapat masukan hal-hal berkaitan dengan kendala maupun informasi yang nantinya bisa disampaikan ke Presiden.

Selanjutnya, Agus Sudarmadi menyampaikan bahwa Kanwil Bea Cukai Kalbagtim sangat senang atas kedatangan Tim Wantimpres.

img_title CHT Sudah Naik Harga Rokok Tetap Sama, Begini Kata Bea Cukai

“Dalam agendanya mengunjungi seluruh instansi terkait dalam penanggulangan narkoba, semoga kedatangan Tim Wantimpres bisa membantu Bea Cukai Kalbagtim dalam meningkatkan sinergitas dengan instansi terkait lainnya, karena Bea Cukai Kalbagtim sendiri masih punya beberapa kendala, antara lain kebijakan negara tetangga, sarana prasarana pengawasan, topografi perbatasan, perekonomian, dan perdagangan serta sumber daya manusia,” katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Penyebab tingginya angka penyelundupan narkoba, menurut Agus adalah dikarenakan bisnis narkotika adalah underground economy dengan keuntungan yang besar, sehingga membuat orang mudah tergiur untuk melakukannya.

“Sarana transportasi laut yang cenderung masih tradisional (tanpa Automatic Identification System/AIS radar maupun lampu) cukup menyulitkan petugas dalam melakukan deteksi ditengah laut. Secara topografi Kalimantan Utara memiliki perbatasan darat yang sangat panjang, banyaknya jalur illegal, serta perbatasan laut yang sangat dekat juga merupakan kendala dalam pengawasan,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut