Darmin Sebut Ulah Spekulan Bursa Buat Harga Karet Jatuh   

Petani memanen getah karet di Banyuasin, Sumatera Selatan
Petani memanen getah karet di Banyuasin, Sumatera Selatan
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

VIVA – Pemerintah terus berupaya menjaga harga karet kembali stabil di kisaran Rp10.000 per kilogram. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, harga karet kualitas rendah yang dirujuk berdasarkan mutu K3 yaitu kadar karet kering, saat ini berada di kisaran Rp6.000 per kilogram.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengaku telah mengidentifikasi penyebab anjloknya harga karet meski tidak terjadi kelebihan produksi atau oversupply. Menurut dia, kondisi itu lebih disebabkan karena ulah spekulan.

"Ada spekulan banyak yang memainkan informasi sebenarnya, sehingga kita sudah lihat stock-nya itu, paling juga dua bulanan, tidak mesti menjatuhkan harga sejauh itu," katanya saat ditemui di kantornya, Jumat 11 Januari 2019.

Dia menjelaskan, pada dasarnya, harga karet tersebut dibentuk di dua bursa karet internasional, yakni di China dan Singapura. Karenanya, pemerintah dalam waktu dekat bakal melakukan pembicaraan dengan pihak-pihak terkait di dua negara itu bersama dengan negara produsen karet lainnya.

"Kelihatannya ada yang perlu dibicarakan dengan mereka supaya harga sesuai supply demand. Jadi kita itu perlu kerja sama, kalau itu paling tidak dengan Thailand dan Malaysia, tidak bisa sendiri-sendiri. Kita sedang galang komunikasi dengan Thailand, baik pemerintah dan asosiasi nya, begitu juga dengan Malaysia," tambahnya.

Dengan pembicaraan yang bakal dilakukan dalam waktu dekat itu, dia mengharapkan bahwa kesamaan informasi terkait data karet dapat diperoleh sehingga harga komoditas itu bisa kembali normal dan membaik.

"Kalau dengan Vietnam dia enggak mau. Vietnam juga produsen karet loh. China pun produsen karet walaupun karetnya beda dengan kita. Komplikasi muncul termasuk karena itu, info tentang karet dia dan punya kita kelihatannya ada yang kurang pas," jelasnya. (lis)