YLKI Ungkap Permainan Harga Tes PCR, Bisa Naik 3 Kali Lipat

Petugas memonitor tes usap PCR COVID-19 (foto ilustrasi).
Petugas memonitor tes usap PCR COVID-19 (foto ilustrasi).
Sumber :
  • VIVA/Muhamad Solihin

VIVA – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai kebijakan wajib PCR bagi penumpang pesawat diskriminatif karena memberatkan dan menyulitkan konsumen.

Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi menegaskan hal itu karena sektor transportasi lain hanya menggunakan antigen. "Bahkan tidak pakai apapun," katanya dilansir dari Antara, Minggu 24 Oktober 2021.

Ilustrasi swab test/PCR/Antigen.
Photo :
  • Pixabay/neelam279

Ilustrasi swab test/PCR/Antigen.

Baca juga: Mobil Tertimpa Longsor di Deli Serdang, Empat Orang Tewas

Selain itu, Harga Eceran Tertinggi (HET) tes PCR di lapangan, lanjut Tulus, banyak diakali oleh penyedia sehingga harganya naik berkali lipat.

"HET PCR di lapangan banyak diakali oleh provider dengan istilah 'PCR Ekspress', yang harganya tiga kali lipat dibanding PCR yang normal. Ini karena PCR normal hasilnya terlalu lama, minimal 1x24 jam," tuturnya.

Tulus menilai syarat wajib PCR sebaiknya dibatalkan atau minimal direvisi. Misalnya, waktu pemberlakuan PCR menjadi 3x24 jam, mengingat di sejumlah daerah tidak semua laboratorium PCR bisa mengeluarkan hasil cepat.