Peran Realistis Hulu Migas dalam Transisi Energi

Wilayah kerja migas lepas pantai yang dikelola Medco Energi.
Wilayah kerja migas lepas pantai yang dikelola Medco Energi.
Sumber :
  • Medcoenergi.com

VIVA – Ibarat telur dan ayam. Energi fosil dan energi baru terbarukan (EBT) bak sebuah kesatuan. Mereka tak bisa dipisahkan begitu saja dalam sebuah proses transisi menuju energi yang bersih.

Transisi energi telah menjadi komitmen bersama dunia untuk mengurangi emisi karbon. Pemerintah menargetkan EBT dalam bauran energi sebesar 23 persen pada 2025 dan terus tumbuh jadi 31 persen pada 2050.

Dalam COP 26 sendiri, Indonesia pun sepakat dengan target penurunan emisi menjadi nol bersih atau net zero emission tercapai pada tahun 2060. Tapi, bukan berarti sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) atau fosil serta merta bisa ditinggalkan begitu saja. 

Menurut data SKK Migas, permintaan migas akan mencapai angka tertinggi pada 2030. Ini merupakan proyeksi berdasarkan kebijakan energi yang telah diumumkan di seluruh dunia (stated policies scenario).

SKK Migas sendiri menargetkan produksi minyak nasional sebesar 1 juta barel per hari (BOPD) dan gas sebesar 12 miliar standar kaki kubik per hari (BSCFD) pada 2030. Ini akan dicapai beriringan dengan penciptaan keberlanjutan lingkungan.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto pun mengatakan, eksplorasi di hulu migas tetap menjadi sangat penting untuk menunjang produksi.

"Eksplorasi juga penting dalam menunjang produksi pasca 2030," ujar Dwi belum lama ini.