25 Ha Lahan Pertanian Rusak Akibat Erupsi Semeru, Warga Gagal Panen

Salah seorang warga Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, melintas rumah rusak akibat terjangan awan panas guguran Gunung Semeru, Rabu, 8 Desember 2021.
Salah seorang warga Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, melintas rumah rusak akibat terjangan awan panas guguran Gunung Semeru, Rabu, 8 Desember 2021.
Sumber :
  • ANTARA/Vicki Febrianto

VIVA – Dampak erupsi Gunung Semeru membuat warga yang tinggal di lereng gunung setinggi 3.676 Mdpl itu mengalami gagal panen. Sekira 25 hektare lahan pertanian warga rusak akibat guyuran abu vulkani dari Gunung Semeru.

Tanaman yang rusak mulai dari cabai, tomat, gubis atau kol, padi dan tanaman lainnya. Ironisnya, sejumlah tanaman dalam kondisi siap panen. Seperti cabai misalnya, biasanya dalam 1 hektare lahan bisa menghasilkan 10 ton cabai. Saat ini harga cabai per kilogram mencapai Rp30 ribu.

"Perkiraan lahan pertanian yang kena 25 hektare ada cabai, gubis siap panen. Sebagian besar cabai siap panen, dan ini harusnya mahal tapi semua sudah hangus. Yang ditanami di sekitar Sungai Curah Kobokan hangus semua akibat lahar dingin itu," kata Ketua RW Sumbersari Umbulan, Desa Supiturang, Pronojiwo, Lumajang, Khusaini, Rabu, 8 Desember 2021.

Daerah Sumbersari Umbulan, Desa Supiturang, Pronojiwo menjadi salah satu wilayah yang terdampak cukup parah erupsi Gunung Semeru. Daerah pertanian warga sebenarnya hanya dilalui sungai kecil dari wilayah pegunungan. Tetapi saat erupsi kemarin, aliran lahar dingin meluas hingga ke desa mereka.

Lahan pertanian terdampak erupsi Gunung Semeru.

Lahan pertanian terdampak erupsi Gunung Semeru.

Photo :
  • Lucky Aditya/VIVA.

"Tahun kemarin (2020) saat erupsi Gunung Semeru  aliran lahar itu dibagi menjadi dua. Pertama, yakni di sungai kecil yang mengaliri pertanian warga. Sementara yang utama itu di sana dekat Curah Kobokan dan dalam itu sungainya. Lah sekarang itu bisa ke sini semua (desa)," ujar petani, Poniri.

Poniri menuturkan, lahan pertanian yang rusak milik para petani yang sudah bersertifikat. Para petani kini resah dengan lahan miliknya. Petani ragu kembali memulai untuk menanam, sebab erupsi terjadi setiap tahun sejak 2020 hingga 2021. Saat erupsi warga otomatis gagal panen karena tanaman mereka rusak diguyur abu vulkanik.