Jokowi Tagih Kontribusi Negara Maju Percepat RI Transisi Energi

Presiden Jokowi dan Ketua Eksekutif WEF Klaus Schwab.
Presiden Jokowi dan Ketua Eksekutif WEF Klaus Schwab.
Sumber :
  • Repro Youtube Sekretariat Presiden.

VIVA – Presiden Jokowi menghadiri World Economic Forum secara virtual, Kamis 20 Januari 2022. Dalam kesempatan tersebut, Jokowi sempat berbincang dengan Ketua Eksekutif World Economic Forum, Klaus Schwab.

Salah satu poin yang dibicarakan mengenai transisi energi berkelanjutan di semua negara. Dalam kesempatan ini, Schwab sempat menanyakan Jokowi terkait ketergantungan Indonesia terhadap Batu Bara sebagai sumber energi.

"Bersama dengan negara berkembang lainnya, Indonesia masih sangat bergantung pada pembangkit listrik tenaga batu bara, Apa pendorong utama bagi Indonesia untuk mempercepat transisi energi," tanya Schwab kepada Jokowi, Kamis 20 Januari 2022.

Baca juga: Lord Rangga Sunda Empire Geruduk DPR, Mau Labrak Arteria Dahlan

Jokowi kemudian menjawab, Komitmen Indonesia untuk transisi energi berkelanjutan sudah ditegaskan pada COP26 di Glasgow. Indonesia sudah berkomitmen untuk memulai transisi ke energi ramah lingkungan.

"Tapi transisi energi memerlukan pembiayaan dan pendanaan yang sangat besar dan akses terhadap teknologi hijau. Bagi negara berkembang seperti Indonesia, harus didukung teknologi dan didukung dengan pendanaan agar tidak terlalu membebani masyarakat, terlalu membebani keuangan negara, terlalu membebani industri," kata Jokowi.

Indonesia, kata Jokowi membutuhkan US$50 miliar untuk transformasi menuju ke energi baru terbarukan, dan membutuhkan US$37 miliar untuk sektor kehutanan guna lahan dan karbon laut. 

"Indonesia dan negara berkembang meminta kontribusi negara maju untuk pembiyaaan dan transfer teknologi. Sumber pendanaan dan alih teknologi akan jadi game changer, pengembangan skema pendanaan inovatif harus dilakukan," ujar Jokowi.

Presiden Joko Widodo menghadiri KTT COP26 yang dilaksanakan di Scottish Event Campus, Glasgow, Skotlandia.

Presiden Joko Widodo menghadiri KTT COP26 yang dilaksanakan di Scottish Event Campus, Glasgow, Skotlandia.

Photo :
  • Biro Pers Sekretariat Presiden

"Pertanyaan semacam ini adalah pertanyaan dari banyak negara berkembang, banyak negara miskin bertanya mengenai ini, dan hasil konkrit hanya bisa dibuktikan oleh kuatnya kerja sama," tambah Jokowi

Jokowi mengatakan, Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, Pemerintah perlu bekerja sama secara domestik dan juga secara global. Untuk dalam negeri, pemerintah bekerjasama dengan BUMN energi dan pihak swasta untuk mendesain transisi energi yang adil dan terjangkau. 

"Kerja sama di tingkat internasional, pemerintah Indonesia telah bekerjasama dengan Asian Development Bank atau ADB memulai mekanisme transisi energi, dari batu bara ke energi baru terbarukan dan yang paling penting memang bagaimana dua hal tadi sekali lagi teknologi, pendanaan menjadi kunci," ujar Jokowi.