Peran Badan Ekonomi Syariah Kadin dalam Majukan UMKM

Logo Kadin Indonesia.
Logo Kadin Indonesia.
Sumber :
  • istimewa

VIVA – Kepala Badan Ekonomi Syariah (BES) Kadin Indonesia, Taufan Eko Nugroho Rotorasiko menjadi narasumber dalam kegiatan AFSI yang temanya 'Peran Ekosistem Keuangan Digital Syariah dalam mendukung pertumbuhan UKM kuliner dan fesyen halal' secara virtual pada Senin, 28 Februari 2022.

Joni Sardjono, yang mewakili Taufan menyampaikan Badan Ekonomi Syariah Kadin Indonesia dibentuk untuk mendukung cita-cita Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang ingin menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia di tahun 2024.

"Maka, untuk perma kalinya Kadin memiliki Badan Ekonomi Syariah dalam masa kepengurusan 2021-2026 agar bisa membantu yang bergerak ekonomi syariah lebih maju," kata Joni.

Logo Kadin Indonesia.

Logo Kadin Indonesia.

Photo :
  • istimewa

Menurut dia, kontribusi UMKM terhadap ekonomi Indonesia tahun 2021, yakni wadah Kadin itu tidak hanya pengusaha besar. Jadi 69,14 juta jumlah sekitar bisnis UMKM termasuk dalam kadin. Kemudian  61,97 persen kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia, dan 8,6 triliun kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

"Dari beberapa faktor, saya kira yang penting sekali bagaimana mengembangkan UMKM Syariah. Pertama pembukaan akses pasarnya, dan pembiayaan yang mudah serta mura," ujarnya.

Dengan adanya fintech, kata dia, kesulitan para UMKM mendapatkan pembukaan akses pasar, serta pembiayaan mudah dan murah mestinya bisa mendapatkan jalan keluar. Sebab, fintech bisa lebih fleksibel dibandingkan lembaga keuangan konvensional dalam memberikan akses pembiayaan. Makanya, perlu ada kolaborasi.

"Saya kira ada peran bagus sekali dari fintech yang mungkin lebih fleksibel dibanding lembaga keuangan konvesional untuk bisa menjembatani temen-temen UMK dalam mengembangkan bisnis selanjutnya, karena mereka (UMKM) punya peran besar pertumbuhan ekonomi Indonesia. Mereka mengalami kesulitan permodalan, dan fintech bisa memberikan inovasi untuk pembiayaan," jelas dia.

Tiga program BES KADIN

Dari BES KADIN Indonesia, Joni mengatakan ada tiga program utama terkait digital. Pertama, kata dia, BES KADIN melihat kesulitan lembaga keuangan baik konvensional maupun fintech, memiliki data yang valid tentang keadaan dari perekonomian situasi bisnis UMKM.

"Sehingga, kami berupaya untuk mewujudkan dalam waktu singkat adalah ketersediaan dan agregasi data ekonomi syaraiah. Dimana, data-data UMKM yang selama ini tersebar berbagai macam lembaga, itu bisa jadi lebih lengkap dalam pusat data di Badan Ekonomi Syariah KADIN," ucapnya.

Kedua, kata Joni, pihaknya melihat masalah literasi ini penting karena mungkin ada kesenjangan informasi antara UMKM dan lembaga keuangan. Untuk itu, BES KADIN ingin mewujudkan satu digital integrated platform yang bisa menjembatani kepentingan kedua belah pihak tersebut.

"Kesulitan menemukan informasi lengkap, kurangnya literasi, kesulitan mendapatkan pemahaman yang komprehensif, tidak ada wadah yang memadai. Kita wujudkan dalam bentuk literasi masyarakat umum, dalam bentuk platform digital yang kami usahakan agar platform bisa cepat terlaksana, sehingga kepentingan literasi dari banyak pihak bisa mudah diakses," jelas Joni.

Ketiga, Joni menambahkan untuk tahap awal karena pengembangan UMKM Syariah terutama masalah pembiayaan membutuhkan waktu tidak sebentar. Maka, BES KADIN akan coba mulai dengan cara sederhana bagaimana menjembatani lembaga konvensional dengan UMKM yang belum akuntabel tapi sudah bagus bisnis dan pencatatannya melalui platform digital fintech.

"Saya kira fintech memiliki peran tepat sekali karena sifatnya fleksibel, agar investasi yang akan diberikan investor-investor baik dari Timur Tengah maupun dunia lebih mudah masuk Indonesia," tandasnya.