Holding BUMN Farmasi Raup Laba Bersih Rp1,93 Triliun pada 2021

Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir.
Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir.
Sumber :
  • Istimewa

VIVA – Holding BUMN Farmasi yang terdiri dari Bio Farma, Kimia Farma dan Indofarma mencatat pendapatan konsolidasi tahun 2021 sebesar Rp43,4 triliun. Kinerja ini terdorong oleh pengadaan vaksin COVID-19.

Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) sebagai induk Holding BUMN Farmasi Honesti Basyir mengatakan, capaian pendapatan pada tahun 2021 itu mencapai 253,7 persen dari Rencana Kinerja Anggaran Perusahaan atau RKAP Tahun 2021.

Honesti juga menambahkan, dibandingkan dengan tahun 2020, pendapatan pada 2021 tersebut tumbuh sebesar 20,23 persen.

"Kenaikan ini terutama karena kontribusi dari pengadaan vaksin COVID-19 untuk pemerintah sebesar Rp26,81 triliun,” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta, Senin, 23 Mei 2022

6 Juta bulk vaksin Sinovac kembali tiba di Bandara Soetta, Jumat 30 April 2021

6 Juta bulk vaksin Sinovac kembali tiba di Bandara Soetta, Jumat 30 April 2021

Photo :
  • VIVA/Sherly (Tangerang)

Di samping itu, lanjut dia, juga mendapatkan kenaikan pendapatan dari bagaimana kita bersinergi dengan semua anak usaha mulai dari alat kesehatan sampai dengan obat-obatan penanganan COVID-19, dan tentunya vaksin COVID-19 itu sendiri.

“Jika dibandingkan dengan RKAP tahun 2021 maka terdapat kenaikan yang cukup signifikan realisasinya," katanya.

Laba Bersih Rp1,93 Triliun

Dari postur EBITDA, Holding BUMN Farmasi juga mengalami kenaikan yang sangat signifikan dibandingkan dengan tahun 2020 yang mana EBITDA Holding Farmasi tumbuh sebesar 206,3 persen. EBITDA Holding Farmasi tahun 2021 tercatat sebesar Rp4,02 triliun.

"Kemudian juga untuk postur laba rugi tahun 2021, kami secara konsolidasi mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,93 triliun atau mencapai 186,9 persen terhadap RKAP 2021," kata Dirut Bio Farma tersebut.

Jika dibandingkan dengan tahun 2020, maka laba bersih konsolidasi Holding BUMN Farmasi tahun 2021 tumbuh 567,8 persen.

Kenaikan laba bersih ini juga tentunya akibat dampak dari proses penanganan pandemi COVID-19 baik yang sifatnya penugasan maupun yang langsung dilakukan di sektor reguler. (Antara)