Tak Untungkan Petani dan Masyarakat, Pungutan Sawit Perlu Dievaluasi

Kelapa sawit
Kelapa sawit
Sumber :
  • vstory

VIVA Bisnis – Sengkarut di industri sawit tampaknya tak bisa reda begitu saja. Sebab, setelah redanya harga minyak goreng, kini di sisi hulu timbul masalah yaitu anjloknya harga beli tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani.

Di mana TBS sawit di tingkat petani yang rata-rata masih berada di kisaran Rp1.200 per kg. Hal itu, jauh lebih rendah ketimbang harga TBS sawit di Malaysia yang saat ini setara dengan Rp4.500 per kg.

Atas kondisi tersebut Kemenkeu merespons dengan menyetop sementara pungutan ekspor sawit dengan harapan gairahkan lagi ekspor sawit nasional sehingga pabrik bisa melepas cadangan yang hanya tersimpan di tangki penyimpanan.

Baca juga: Maaf Pertalite Habis! Pasokan Mulai Langka?

Tak hanya itu, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan juga menargetkan harga TBS sawit petani bisa naik setidaknya ke angka Rp2.400 di akhir Agustus, atau di periode relaksasi pungutan sawit ini berakhir.

Sayang, masalah industri sawit sepertinya belum akan tuntas terurai kala pungutan ekspor sawit ini diterapkan awal bulan depan. Karena disinyalir, akar masalahnya justru ada di pengelolaan dan sawit itu sendiri.

Peneliti Institut for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda menilai, pengelolaan dana sawit saat ini tidak sejalan dengan ide utama ketika pungutan ekspor sawit ini direncanakan.