Suku Bunga Acuan BI Diproyeksi Naik, Begini Dampaknya ke KPR

Ilustrasi KPR.
Ilustrasi KPR.
Sumber :
  • rumahku.com

VIVA Bisnis – Jarak antara suku bunga Bank Indonesia (BI) dan Federal Reserve (the Fed) semakin menyempit. Hal itu karena BI masih mempertahankan suku bunga acuannya di 3,5 persen.

Adapun dari penahanan suku bunga yang dilakukan oleh BI tersebut membuat beberapa pihak salah satunya, Kepala Ekonom Bank Rakyat Indonesia, Anton Hendranata menyarankan BI untuk menaikkan suku bunga acuannya.

Sementara itu, jika BI nantinya menaikkan suku bunga acuannya maka akan berdampak terhadap suku bunga kredit salah satunya Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Hal itu diungkapkan oleh Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara.

"Dampak dari kenaikan suku bunga akan memicu bank menaikkan (Bunga) KPR secara bersamaan. Proyeksinya jika suku bunga naik 100 basis poin atau 1 persen maka bunga floating KPR naiknya bisa 1,5 persen-2 persen," kata Bhima saat dihubungi VIVA, Rabu 10 Agustus 2022.

Karena itu jelas Bhima, akan membuat KPR makin tidak terjangkau oleh kelas pekerja. Dengan kata lain pekerja atau masyarakat semakin sulit memiliki rumah.

Namun, jika BI tidak menaikkan suku bunga acuannya dikhawatirkan akan menyebabkan inflasi dan depresiasi kurs rupiah. Dalam hal itu akan membuat harga material bangunan naik.

"Ada imported inflation ke besi baja, keramik, kaca misalnya. Itu juga berisiko buat harga rumah jadi lebih mahal," jelasnya.

Bank Indonesia

Bank Indonesia

Photo :
  • akurat.co

Sebelumnya, Kepala Ekonom BRI Anton menyarankan BI untuk menaikkan suku bunga acuannya. Karena saat ini suku bunga acuan BI sebesar 3,5 persen, sedangkan suku bunga acuan the Fed di 2,5 persen.

"Gap itu semakin mengecil dan ini bisa menambah tekanan depresiasi rupiah secara konsisten dalam beberapa periode yang akan datang. Saya kira ini perlu diperhatikan baik-baik," ujar Anton.

Rupiah melemah terhadap dolar AS.

Rupiah melemah terhadap dolar AS.

Photo :
  • ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/YU/aa

Anton menyebutkan, jika pada Agustus nanti BI menaikkan suku bunga acuan merupakan hal yang wajar. Karena dengan menaikkan suku bunga acuan tak lantas mengorbankan pertumbuhan ekonomi saat ini.

"Kalau seandainya BI terpaksa kalau harus menaikkan suku bunga acuannya itu bukan berarti mengorbankan pertumbuhan ekonomi yang sudah semakin baik. Karena di globalnya jauh lebih agresif," jelasnya.