Sri Mulyani Ungkap Ekonomi Global 2024 Masih Diproyeksi Lemah oleh IMF dan World Bank

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati
Sumber :
  • Instagram @smindrawati

Jakarta – Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menyebut pertumbuhan ekonomi global masih akan melemah di tahun 2024. Hal ini seiring dengan suku bunga yang masih melonjak cukup tinggi dalam 18 bulan terakhir.

Sri Mulyani Bertemu Menkeu Selandia Baru, Ini yang Dibahas

Sri Mulyani mengatakan, International Monetary Fund (IMF) memproyeksi bahwa pertumbuhan ekonomi global 2024 hanya sebesar 3,1 persen. Sedangkan World Bank memperkirakan perekonomian global hanya tumbuh 2,4 persen atau lebih rendah dari kinerja perekonomian global 2023.

“Perekonomian global 2024 diperkirakan masih dalam posisi yang lemah, di mana meskipun inflasi mengalami moderasi atau penurunan, namun belum serta merta menurunkan suku bunga yang melonjak cukup tinggi dalam 18 bulan terakhir,” ujar Sri Mulyani dalam keterangannya, Jumat, 23 Februari 2024.

Kesaksian Menkeu soal Bansos di MK Dinilai Banyak yang Tak Sesuai Fakta di Lapangan

Pertumbuhan ekonomi global

Photo :

Bendahara Negara ini mengatakan, untuk ekonomi Indonesia sendiri hingga saat ini masih tetap resilien didukung kuatnya permintaan domestik, konsumsi, dan investasi di tengah pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan masih dalam posisi yang lemah.

Sri Mulyani Bertemu Presiden ADB Bahas Transisi Energi hingga Pensiun Dini PLTU

Dia menjelaskan bahwa Indonesia mencatatkan pertumbuhan yang relatif masih cukup baik di 5,0 persen, dilihat dari negara-negara G20 maupun ASEAN.

“Pelemahan global dan tren harga komoditas yang melemah tentu harus kita waspadai karena akan berpotensi mempengaruhi kinerja perekonomian Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia alhamdulillah selama periode 2023 masih bisa bertahan di 5 persen atau dalam hal ini 5,05 persen. Ini karena kuartal empat tetap terjaga di atas 5 persen,” jelasnya.

Sri Mulyani menuturkan, kontributor yang penting dalam mendukung kuatnya ekonomi Indonesia adalah konsumsi rumah tangga yang masih terjaga tumbuh di 4,82 persen dari sisi pengeluaran dan sektor manufaktur tumbuh 4,64 persen dari sisi produksi.

Selain itu, aktivitas konsumsi yang tetap kuat ini didukung oleh inflasi yang terkendali dan peran APBN sebagai shock absorber dalam menjaga daya beli masyarakat.

“Konsumsi rumah tangga masih terjaga tumbuh di 4,82 persen dan ini kontribusinya 53 persen terhadap total PDB (Produk Domestik Bruto). PMTB atau investasi dalam hal ini tumbuh 4,4 persen, kontribusinya terhadap PDB adalah 29,3 persen. Konsumsi pemerintah juga memberikan kontribusi positif 2,95 persen,” imbuhnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya