Jurnalisme Robot, Berita Tanpa Emosi
- REUTERS/Michaela Rehle
Di Indonesia, penggunaan robot penulis, mulai digagas beritagar.id, per tahun 2018 dengan memfokuskan pada laporan hasil pertandingan sepak bola. Dasarnya, data yang muncul dalam pertandingan umumnya konsisten dan berupa pengulangan.
"Data hasil pertandingan dimaksud, juga merupakan fakta yang tak butuh verifikasi sehingga dapat disajikan apa adanya kepada Anda," tulis beritagar.id dilamannya.
Jauh sebelum ini, serupa dilakukan Microsoft Indonesia. Produk robotnya adalah Rinna. Ia berupa mesin cerdas yang bisa merayu, dan di-setting tidak memakai kalimat formal.
![]()
Rinna adalah chatbot pertama di Indonesia memanfaatkan deep learning, big data, dan mesin pencarian Bing di komputasi awan Azure. Sementara ini Rinna hanya beroperasi di layanan pesan instan line.
Terlepas itu, yang pasti jurnalis robot memang memiliki dua sisi. Ia mungkin saja bisa menjadi pembantu kerja penulisan. Di sisi lain ia juga bisa mengancam profesi jurnalis.
"Saya tidak yakin apakah jurnalisme masih jurnalistik tanpa reporter. Tapi akan ada banyak manfaat yang bisa dipelajari jurnalis untuk memperbaiki laporan mereka," ujar pengembang Wikimedia Foundation, Melody Kramer.
"Jurnalisme automatik akan membuat jurnalis bisa melakukan pencarian berita yang lebih mendalam dan menarik. Sementara hal yang membosankan akan dilakukan oleh robot," tambah Claire Wardle dari Tow Centre for Digital Journalism.