Sejarah Sumur Zamzam dari Masa ke Masa
- VIVA/Dedy Priatmojo
Arab Saudi – Air zamzam merupakan salah satu ikon dari Tanah Suci Mekah. Berasal dari mata air suci yang berada di sekitar Ka'bah, air zamzam terus mengalir sejak berabad-abad lamanya, memberikan manfaat kepada seluruh penduduk serta peziarah dua kota suci Mekah dan Madinah.
Menilik sejarahnya, air zamzam berawal dari kisah Nabi Ibrahim bersama istrinya Siti Hajar dan anaknya Ismail. Ibrahim atas perintah Allah, meninggalkan istri dan anaknya di sebuah lembah padang yang gersang dan tak berpenghuni.
Lama berselang setelah Nabi Ibrahim pergi, bayi Ismail menangis kehausan. Siti Hajar kebingungan mencari air. Dengan sisa tenaga, Ia berlari diantara dua bukit Shafa dan Marwah untuk mencari sumber air dan pertolongan. Tujuh kali Siti Hajar bolak balik Shafa-Marwah berharap pertolongan dan mencari tanda kehidupan, tapi hasilnya nihil.
Siti Hajar terjatuh, tubuhnya lemah. Dengan kondisi itu, Ia memandang ke arah Ismail sembari berdoa mohon pertolongan Allah. Tiba-tiba dari kaki Ismail, timbul mata air yang memancar. Mereka berdua pun dapat minum dan mendirikan tenda disana. Mata air yang memancar dari kaki Ismail itu kemudian dikenal sebagai air zamzam.
Mata air zamzam itu masih mengalir hingga kini. Pada masa lalu, mata air zamzam ini sempat menghilang terkubur tanah. Sampai kemudian ditemukan kembali Abdul Muthalib, pemimpin Bani Hasyim yang merupakan kakek dari Nabi Muhammad Saw.
![]()
Foto: Mata air zamzam
Bani Hasyim yang merupakan klan penting suku Quraisy Mekah. Abdul Muthalib mendapat mimpi hingga diminta menggali tepat di letaknya mata air zamzam di masa Ibrahim. Ia membuatkannya sumur agar dapat menampung air lebih banyak. Karena keutamaan inilah, penduduk Mekah mendaulat Bani Hasyim sebagai penjaga sumur zamzam.
Seiring waktu, pengelolaan sumur zamzam mengalami banyak transformasi. Terlebih, ketika sumur zamzam yang berada di dalam komplek Masjidil Haram, Ka'bah, menjadi otoritas Kerajaan Arab Saudi, sebagai khadimul haramain.Â
Pada tahun 1373 Hijriah/1953 M, pengambilan air zamzam yang semula masih menggunakan timba diganti menggunakan pompa air. Pompa ini menyalurkan air dari kedalaman sumur 18 meter ke bak penampungan air, dan di antaranya juga ke kran-kran yang ada di sekitar sumur zamzam.