Demo Protes Kematian George Floyd Meluas Hingga Keluar AS
- aljazeera.com
VIVA – Demonstrasi besar-besaran terjadi di berbagai daerah di Amerika Serikat. Demonstrasi ini terjadi menyusul meninggalnya pria 46 tahun berkulit hitam George Floyd pada Senin 25 Mei 2020 lalu. Floyd meninggal setelah Derek Chauvin, petugas kepolisian Minesotta mencekik Flyod dengan lututnya. Hingga beberapa menit kemudian Floyd perlahan berhenti berbicara juga bergerak hingga meninggal dunia.
Atas kejadian tersebut, banyak warga Amerika turun ke jalan menggelar protest menuntut keadilan untuk George Floyd. Aksi demonstrasi yang menuntut keadilan atas kematian Flyod pada Senin lalu meluas hingga ke berbagai daerah di Amerika. Akibatnya Kamis waktu setempat sejumlah pertokoan di Twin Cities ditutup untuk mencegah penjarahan. Bukan hanya itu saja, kota Minneapolis juga mematikan hampir seluruh sistem light-rail-nya dan semua layanan bus demi alasan keamanan.
Dikutip dari laman Daily Sabah, aksi tersebut ternyata meluas hingga keluar Amerika. Aksi menutut keadilan bagi George Floyd juga terjadi di Berlin. Ratusan demonstran memilih melakukan aksi di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat pada Sabtu malam sambil membawa poster bertuliskan "Keadilan untuk George Floyd."
Baca Juga: Dwi Sasono Ngeganja, Alasannya Buat Isi Waktu Kosong Saat Wabah Corona
Tidak hanya di Berlin, ribuan orang juga berkumpul di London pusat pada hari Minggu, 31 Mei 2020 untuk memberikan dukungan kepada para demonstran di Amerika. Nyanyian, “Tidak ada keadilan! Tidak ada kedamaian!'' Dan mengibarkan plakat di Trafalgar Square, menggema. Bahkan para pengunjuk rasa mengabaikan peraturan pemerintah Inggris yang melarang orang banyak karena pandemi virus corona.
Di Italia, koresponden senior surat kabar AS, Corriere della Sera Massimo Gaggi menuliskan bahwa reaksi terhadap pembunuhan Floyd "berbeda" dari kasus-kasus sebelumnya yang terjadi pada orang kulit hitam di Amerika.
"Ada gerakan kulit hitam yang jengkel dan tidak lagi mengabarkan perlawanan tanpa kekerasan," tulis Gaggi, mencatat peringatan gubernur Minnesota bahwa, kelompok-kelompok supremasi kulit putih dan anarkis berusaha untuk mengobarkan kekacauan.
Di negara-negara dengan pemerintah otoriter seperti China juga telah menyoroti kekacauan dan kekerasan yang terjadi di AS sebagai bagian untuk mengkritik pejabat Amerika terhadap pemerintahan mereka.