Diam-diam Taliban Lobi China, Rusia, dan Pakistan

Mullah Hasan Akhund, kepala pemerintahan Afghanistan yang baru.
Mullah Hasan Akhund, kepala pemerintahan Afghanistan yang baru.
Sumber :
  • Dok.BBC

VIVA – Utusan khusus China, Rusia, Pakistan untuk Afghanistan mengunjungi Kabul pada Selasa 21 September 2021 hingga Rabu 22 September 2021.

Ketiga duta tersebut, yakni Utusan Khusus Kementerian Luar Negeri China untuk Afghanistan, Yue Xiaoyong, Utusan Khusus Presiden Rusia untuk Afghanistan Zamir Kabulov, dan Utusan Khusus Kemlu Pakistan untuk Afghanistan, Mohammad Sadiq.

Ketiganya menemui pelaksana tugas Perdana Menteri Afghanistan, Hasan Akhund, Menlu Amir Khan Muttaqi, palaksana tugas Menteri Keuangan Hidayatullah Badri, dan sejumlah pejabat senior lainnya.

"Kedatangan mereka atas undangan Taliban di Afghanistan," kata Juru Bicara Kemlu China, Zhao Lijian. Menurut Lijian, mereka menggelar diskusi tentang perkembangan situasi di Afghanistan.

"Mereka juga sangat mendukung pemberantasan terorisme dan kejahatan narkoba. Pihak Taliban menekankan pentingnya Afghanistan bermitra dengan China, Rusia, dan Pakistan karena ketiga negara ini memainkan peran konstruktif dan bertanggung jawab dalam mengonsolidasikan perdamaian dan stabilitas di Afghanistan," ujar Zhao.

Ketiga negara juga menyerukan komunitas internasional memberikan bantuan kemanusiaan kepada Afghanistan dan menekankan kepada Amerika Serikat dan sekutunya agar bertanggung jawab terhadap masalah pembangunan sosial dan ekonomi Afghanistan.

Ketiga negara dan otoritas Taliban sepakat untuk tetap memelihara dan mendukung perdamaian dan kemakmuran di Afghanistan serta stabilitas pembangunan regional.

Dalam kunjungan tersebut, para utusan khusus juga bertemu dengan mantan Presiden Afghanistan, Hamid Karzai, dan mantan Ketua Majelis Tinggi Rekonsiliasi Nasional, Abdullah Abdullah, untuk membahas perdamaian dan stabilitas di Afghanistan, demikian Zhao dalam briefing pers harian itu.

Zhao menambahkan bahwa selama kunjungan tersebut, China tetap mematuhi kebijakan non-intervensi, dan selalu memainkan peran konstruktif dalam penyelesaian politik di Afghanistan.

"Afghanistan harus bisa mewujudkan politik yang terbuka dan inklusif, menerapkan kebijakan dalam dan luar negeri yang moderat dan bijaksana, memutuskan hubungan dengan berbagai bentuk organisasi teroris, dan bersikap ramah terhadap negara-negara tetangga," kata Zhao. (Ant/Antara)