Gairah Besar China Menjual Xinjiang yang Berhamparan Salju Luas

Xinjiang dengan keindahan hamparan saljunya
Xinjiang dengan keindahan hamparan saljunya
Sumber :
  • YouTube CGTN

VIVA – Besarnya gairah China menjual potensi besar dataran tinggi Xinjiang sebagai pusat wisata ski dan permainan es makin terlihat menjelang Olimpiade Musim Dingin yang menjelang sebentar lagi. Banyak perusahaan asing termasuk dari Barat yang mengambil bagian di dalamnya meskipun hal itu menjadi tampak ironis lantaran sejumlah negara Barat yang dimotori Amerika Serikat (AS) memboikot Olimpiade Beijing karena pelanggaran HAM oleh China di Xinjiang.

Para influencer dan juga warga China diajak otoritas China untuk bermain ski dan menikmati resor ski di Xinjiang yang menjadi kampung halaman minoritas Uighur tersebut. Selama ini China disorot internasional karena disebut melakukan genoside senyap kepada minoritas Muslim Uighur melalui kedok kamp pendidikan, dilansir laman BBC.

Video dan foto-foto bermain kereta luncur dengan kuda, pondok-pondok musim dingin dan aksi-aksi main ski ditampilkan dalam berbagai konten dan promosi. Xinjiang, teritori yang sebenarnya sedang menjadi masalah seakan-akan hanya ditampilkan dalam perlombaan dan permainan di Olimpiade Musim Dingin nanti.

Xinjiang tak diragukan lagi merupakan spot yang amat luas dengan hamparan salju dan cuaca yang amat mendukung. Namun wilayah Xinjian menjadi alasan AS dan banyak negara Barat memboikot China karena melakukan represi terhadap populasi Uighur di wilayah ini.

Ironisnya, perusahaan-perusahaan besar dari Barat mulai ikut berinvestasi dna berusaha di wilayah Xinjiang. Padahal pemerintah AS sendiri sebelumnya sudah meminta agar perusahaan swasta di negaranya tak mendukung pemerintah China sebab menyukseskan bisnis di Xinjiang sama artinya dengan mengabaikan pelanggaran HAM berat terhadap warga Uighur. 

Perusahaan papan luncur Burton yang ternama juga sudah memiliki outlet dan membuka bisnis di Xinjiang. Bos Burton bernama Craig Smith mengatakan dia memang melihat dan mengetahui berita soal pelanggaran HAM di sana. Namun Smith berdalih bahwa mereka hanya pebisnis dan bukan politikus sehingga tak bisa menilai lebih jauh dari soal ekonomi.

Sementara itu Volkswagen juga menjadi perusahaan otomotif besar yang sudah memulai bisnisnya di China. Pula ada perusahaan mobil listrik Tesla yang tak mau ketinggalan mengambil keruk bisnis di negara itu.