4 Tsunami Paling Besar dan Merusak Dunia, No.3 Masih Membekas
- http://ioc3.unesco.org
VIVA – Bencana tsunami paling besar dan merusak dunia banyak terjadi sepanjang sejarah. Tsunami adalah serangkaian gelombang yang disebabkan oleh perpindahan volume air yang besar umumnya di lautan, laut atau danau besar. Penyebab tsunami bisa apa saja, termasuk gempa bumi, letusan gunung berapi, atau ledakan bawah laut. Tsunami telah ada di Bumi selama ada lautan. Tak heran jika tsunami dapat menyebabkan banyak kerusakan dan kini telah tercatat dengan jelas.
Bagi penduduk pesisir hanya memiliki beberapa menit untuk melarikan diri ke tempat yang lebih tinggi, dan jika dilakukan lebih lama makan akan jatoh korban. Kata “tsunami” berasal dari dua kata dalam bahasa Jepang, “tsu” yang berarti pelabuhan dan “nami” yang berarti gelombang. Tak terhitung banyaknya tsunami yang terjadi di planet ini.
1. Tsunami Krakatau, Indonesia (1883)
Tsunami Krakatau, Indonesia (1883)
- gettyimage
Tsunami paling besar dan merusak dunia yang pertama dari Indonesia. Tsunami ini terjadi pada 27 Agustus 1883 yang disebabkan oleh letusan gunung berapi kaldera Krakatau. Banyak gelombang yang dihasilkan setinggi 37 meter dan disebarkan oleh letusan dahsyat dan menghancurkan kota Anjer dan Merak. Dilaporkan bahwa laut surut pantai Bombay dan menewaskan satu orang di Sri Lanka juga. Sebanyak 40.000 orang tewas dalam peristiwa ini dengan 2000 kematian akibat letusan gunung berapi.
2. Tsunami Papua Nugini (1998)
Tsunami Papua Nugini (1998)
- weathernation
Tsunami Papua Nugini merupakan tsunami paling besar dan merusak dunia yang kedua. Saat itu tidak hanya tsunami, namun juga gempa bumi berkekuatan 7,0 yang melanda pantai utara Papua Nugini pada 17 Juli 1998 biasanya tidak diperkirakan akan menyebabkan tsunami yang begitu dahsyat. Dilansir oleh brainz.org, gempa bumi memicu tanah longsor bawah laut yang besar, yang pada gilirannya menghasilkan gelombang setinggi 49 kaki dan ketinggian rata-rata 34 kaki. Ketika tsunami menghantam pantai, itu menyebabkan setidaknya 2.183 kematian - dengan 500 orang hilang - dan membuat sekitar 10.000 penduduk kehilangan tempat tinggal. Banyak desa rusak parah, sementara yang lain, seperti Arop dan Warapu, hancur total. Jika ada satu hal positif yang bisa diambil dari bencana itu, hal itu memberi para ilmuwan wawasan yang berharga tentang ancaman tanah longsor bawah laut dan tsunami tak terduga yang dapat ditimbulkannya, dengan harapan dapat menyelamatkan nyawa di masa depan.