Peluncuran Rencana Infrastruktur Negara G7 untuk Melawan China

Para pemimpin G7.
Para pemimpin G7.
Sumber :
  • AP Photo/Markus Schreiber

VIVA – Negara G7 untuk Infrastruktur dan Investasi Global akan membantu membiayai proyek-proyek infrastruktur di negara-negara berkembang.

Para pemimpin negara-negara Kelompok Tujuh (G7) telah berjanji untuk mengumpulkan dana sebesar $600 miliar atau setara dengan Rp 8,871 kuadriliun.

Dana tersebut berasal dari sektor swasta dan publik selama lima tahun untuk membiayai infrastruktur di negara-negara berkembang dan melawan proyek pengemabangan infrastruktur jalan China yang sudah ada lebih dulu dan bernilai triliunan dolar.

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden dan para pemimpin G7 lainnya meluncurkan kembali "Kemitraan untuk Infrastruktur dan Investasi Global" yang baru berganti nama pada hari Minggu, 26 Juni 2022 tepat pada pertemuan tahunan mereka yang diadakan tahun ini di Schloss Elmau di Jerman selatan.

“Negara-negara berkembang sering kekurangan di bidang infrastruktur, penting untuk kita membantu serta menavigasi guncangan global, seperti pandemi, mereka merasakan dampaknya yang parah dan mereka juga lebih sulit pulih,” kata Biden saat konferensi pers.

 

“Itu bukan hanya masalah kemanusiaan, ini masalah ekonomi dan keamanan bagi kita semua.” Lanjut Biden.

Amerika Serikat, katanya, akan memobilisasi $200 miliar atau setara dengan Rp 2,958 kuadriliun.

Dana itu dapat dalam bentuk hibah, dana federal, dan investasi swasta selama lima tahun untuk mendukung proyek-proyek di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah yang membantu juga dalam mengatasi perubahan iklim serta meningkatkan kesehatan global, kesetaraan gender, dan infrastruktur digital. .

“Saya ingin memperjelas. Ini bukan bantuan atau amal. Ini adalah investasi yang akan memberikan hasil bagi semua orang,” kata Biden, Ia juga menambahkan bahwa itu akan memungkinkan negara-negara untuk melihat manfaat nyata dari bermitra dengan demokrasi.

Biden juga mengatakan ratusan miliar dolar tambahan dapat berasal dari bank pembangunan multilateral, lembaga keuangan pembangunan, dana kekayaan negara dan lainnya.

Eropa akan memobilisasi banyak dana tersebut untuk suatu bentuk prakarsa selama periode yang sama guna membangun alternatif berkelanjutan untuk menandingi skema Inisiatif bantuan pembangunan China, yang diluncurkan langsung oleh Presiden China Xi Jinping pada 2013, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan saat pertemuan.

Pemimpin Italia, Kanada dan Jepang juga berbicara tentang rencana mereka, beberapa di antaranya telah diumumkan secara terpisah. Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson tidak hadir, tetapi negara mereka juga akan berpartisipasi.

Skema investasi China melibatkan pengembangan dan program di lebih dari 100 negara yang bertujuan untuk menciptakan versi modern dari jalur perdagangan Jalur Sutra kuno dari Asia ke Eropa.

Pejabat Gedung Putih mengatakan rencana itu hanya memberikan sedikit manfaat nyata bagi banyak negara berkembang, dan itu menjebak negara-negara penerima bantuan dalam bentuk utang dan dengan investasi yang lebih menguntungkan China.

Biden menyoroti beberapa proyek unggulan, termasuk proyek pengembangan tenaga surya di Angola dengan dukungan dari Departemen Perdagangan, Bank Ekspor-Impor AS, perusahaan AS Africa Global Schaffer, dan pengembang proyek AS Sun Africa.

Bersama dengan anggota G7 dan Uni Eropa, Washington juga akan memberikan bantuan teknis yang berupa dana kepada Institut Pasteur de Dakar di Senegal dalam mengembangkan fasilitas manufaktur multi-vaksin skala, proyek ini juga melibatkan UE.