5 Negara Penguasa Minyak Terbesar di Dunia
- Al Arabiya.
Saudi Aramco merupakan sebuah perusahan yang menangani minyak mentah di seluruh Arab Saudi, pada 2019 dinobatkan sebagai perusahaan paling berharga di dunia. Pemimpin perusahan tersebut dipegang oleh Pangeran Arab Saudi yaitu Mohammad Bin Salman.
3. Rusia - 11,5 Juta Barel Per Hari
Ladang minyak di Pulau Sakhalin, Rusia.
Rusia telah menyumbangkan 12 persen pasokan minyak ke seluruh dunia pada 2019. Rusia bisa menghasilkan minyak mentah sebanyak 11,5 juta barel per hari. Seperti halnya Arab Saudi, Rusia juga merupakan salah satu pengekspor minyak terbesar di dunia.
Sebagian besar, ekspor minyak yang sering dikirim oleh Rusia yakni ke China, Jerman, Belanda serta negara-negara Eropa lainnya. Setelah jatuhnya Uni Soviet dan berganti nama menjadi Rusia. Perusahan minyak mentah dikuasai oleh pemimpin negara.
Selain menghasilkan banyak minyak. Rusia juga penghasil gas alam terbesar di dunia, bersama Amerika Serikat, kedua negara tersebut bersaing dalam memproduksi gas alam untuk dijual ke beberapa negara.
4. Kanada - 5,6 Juta Barel Per Hari
Menlu Kanada Melanie Joly saat berada di Washington DC
Sekitar 95 persen minyak mentah di Kanada terletak di provinsi Alberta Barat. Kanada juga termasuk tiga negara yang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia setelah Arab Saudi dan Venezuela. Pada tahun 2019, Kanada mampu memproduksi minyak mentah sebanyak 5,6 juta barel per hari.
Perusahan yang memproduksi minyak di Kanada dipegang oleh Suncor Energy, Imperial Oil, Husky dan Cenovus. Hasil minyak mentah yang diproduksi oleh Kanada langsung di ekspor ke Amerika Serikat, tercatat pada 2019 telah mengekspor 3,7 juta barel per harinya.
5. Irak - 4,8 Juta Barel Per Hari
Pengeboran minyak bumi
Pada tahun 2019, Irak telah memproduksi minyak mentah sebakany 4,8 juta barel per hari. Irak juga masuk dalam keanggotaan OPEC.Â
Selain minyak, Irak juga penghasil hidrokarbon yang sangat besar. Pengembangan infrastruktur minyak di Irak terbilang sangat lambat, menyusuk sanksi ekonomi, konflik militer dan pergolakan politik yang menimpa Irak, membuat negara tersebut kehilangan pendapatan dari ekspor minyak.