Perjalanan Mohammed bin Salman Jadi Pangeran Arab

Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman.
Sumber :
  • Istimewa

Selain itu, ia juga ditunjuk sebagai sekretaris jenderal Royal Court, serta mempertahankan jabatannya sebagai menteri negara.

img_title Iran Klaim AS Siapkan Serangan Bom Baru, Negara-Negara Timur Tengah Mulai Waspada

Masih di tahun yang sama, Pangeran Mohammad akhirnya menjadi Wakil Putra Mahkota Arab Saudi dan menjadi salah satu pria paling berkuasa di Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Keterlibatan Mohammed bin Salman 

img_title Iran dan AS Saling Ancam, Serangan Houthi Perparah Konflik Timur Tengah

Sekitar waktu yang sama, Wakil Putra Mahkota baru Mohammed bin Salman terlibat dalam Perang Saudara Yaman, meluncurkan serangan terhadap pemberontak Houthi. Arab Saudi dituduh oleh Amnesty International atas kejahatan perang karena keterlibatannya.

Arab Saudi menyatakan kampanye pengeboman telah berakhir dan akan memulai Operasi Pemulihan Harapan sebagai gantinya, tetapi perang terus berkecamuk di wilayah tersebut.

img_title Arab Saudi Tak Minta Senjata dari AS, Justru Butuh Bantuan Tentukan Target Houthi

Ia juga mulai bertemu dengan para pemimpin dan diplomat dunia, termasuk Menteri Luar Negeri AS John Kerry untuk membahas hubungan bilateral.

Di sisi lain, perdagangan senjata pemerintah Barat ke Timur Tengah telah dikritik oleh badan amal kemanusiaan. Tahun lalu AS menyetujui penjualan bom pintar senilai $1,29 miliar ke Arab Saudi.

Pada Juni 2015 ia bertemu dengan pemimpin Rusia Vladimir Putin untuk membahas krisis yang sedang berlangsung di Suriah, perang yang enggan melibatkan Arab Saudi.

Rusia segera meluncurkan kampanye pengeboman yang intens terhadap pemberontak Suriah, tetapi mengklaim telah mundur.

Sementara pada Januari 2016 Wakil Putra Mahkota bin Salman menarik lebih banyak perhatian Barat dengan sebuah wawancara dengan The Economist, di mana menyebut protes Iran terhadap eksekusi itu "aneh" dan mengatakan dia menginginkan "revolusi Thatcher" dari privatisasi untuk Arab Saudi.

Dirinya juga mengatakan dia mendukung gagasan lebih banyak perempuan di angkatan kerja.

Kemudian pada Maret 2016 ia memberikan wawancara lain kepada Bloomberg dengan menguraikan rencananya "$2 triliun megafund" untuk mengurangi ketergantungan negara pada minyak dan secara fundamental mengubah ekonomi Saudi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kerajaan saat ini memiliki defisit sekitar $100 miliar dan harga minyak masih jauh di bawah $50 per barel.

Dalam wawancara yang sama, dia mengatakan dia akan mendukung lebih banyak kebebasan bagi perempuan yang tidak bisa mengemudi atau bepergian tanpa izin dari kerabat laki-laki di kerajaan dan bahwa polisi agama Arab Saudi akan dilarang melakukan penangkapan acak.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut