Rasakan Kebebasan, Wanita Afghanistan di Australia Berenang dan Nyetir

Para perempuan Afghanistan saat berada di Kabul
Para perempuan Afghanistan saat berada di Kabul
Sumber :
  • AP Photos/Massoud Hossaini

VIVA Dunia – Merasakan kebebasan yang selama ini terpendam, di sebuah kolam renang di pinggiran barat Sydney ada sekitar 20 wanita Afghanistan yang baru-baru ini tiba di Australia sebagai pengungsi sedang berkumpul. Mereka mendengarkan mantan pencari suaka Maryam Zahid yang lebih dahulu tiba di sana.

Zahid yang berada di lingkaran wanita sebangsanya itu menawarkan kelas renang dan berbicara tentang budaya Australia kepada mereka.

Zahid yang tiba di Australia dari Afghanistan 22 tahun lalu menegaskan di setiap sesinya tentang misi membantu para perempuan mengembangkan identitas diri mereka sendiri dan mengatasi trauma perang yang menghancurkan negara asal mereka.

Pejuang hak perempuan dan aktivis sipil melakukan protes kepada Taliban di Kabul

Pejuang hak perempuan dan aktivis sipil melakukan protes kepada Taliban di Kabul

Photo :
  • ANTARA/Reuters

"Itu adalah sesuatu yang akan berdampak pada aspek psikologis dan emosional kehidupan mereka untuk memiliki identitas bagi diri mereka sendiri sebagai manusia pertama," kata Zahid dikutip dari The Sundaily, Kamis 11 Agustus 2022.

Dia menambahkan bahwa dirinya sedang menciptakan kenangan atas kebahagiaan dan kesempatan.

Setahun setelah aliansi pimpinan Amerika Serikat (AS) keluar dari Afghanistan, puluhan ribu warga Afghanistan telah dimukimkan kembali di AS dan Eropa.

Australia awalnya mengalokasikan 3.000 visa kemanusiaan untuk warga Afghanistan setelah Agustus 2001. Namun awal tahun ini mengatakan akan mengizinkan 15.000 pengungsi selama empat tahun ke depan.

Kiri: Shafiqa Sae berteriak saat memprotes pembunuhan tujuh orang dari komunitas Hazara, di Kabul, Afghanistan, 11 November 2015.

Kiri: Shafiqa Sae berteriak saat memprotes pembunuhan tujuh orang dari komunitas Hazara, di Kabul, Afghanistan, 11 November 2015.

Photo :
  • Antara/Reuters/Omar Sobhani

Dalam Program Perempuan Afghanistan Bergerak, Zahid ikut membantu para pengungsi. Banyak dari mereka yang melarikan diri setelah gerakan Islam garis keras Taliban kembali berkuasa dan membuat mereka tidak dapat belajar mengemudi dan mencari pekerjaan karena terlahir sebagai perempuan.

Dia yakin para wanita itu mungkin tidak kembali ke Afghanistan di mana pemerintah telah sangat membatasi hak-hak perempuan dan anak perempuan. Misalnya anak perempuan kembali dilarang pergi ke sekolah menengah.

Beberapa wanita di pusat penampungan tersebut memilih untuk tidak berbicara di depan kamera karena khawatir akan keselamatan keluarga mereka yang masih berada di Afghanistan.

Sebagai contoh Sahar Azizi yang berusia 23 tahun mengambil pelajaran mengemudi keduanya. Dia tampak dengan hati-hati menavigasi jalan-jalan pinggiran kota Sydney yang sibuk.

“Saya memutuskan untuk mulai belajar dan mengemudi daripada duduk di rumah sepanjang waktu dan memikirkan situasi buruk di Afghanistan,” kata Azizi, yang tiba di Australia satu tahun lalu bersama suami dan bayi laki-lakinya.

Menurutnya, suasana di Afghanistan sangat menegangkan dan tak aman sehingga dia memutuskan untuk pindah dan melakukan sesuatu untuk mencapai impiannya.