Latihan Militer RI-AS Tak Ada Kaitan Dengan Ketegangan China-Taiwan

Panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa.
Panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa.
Sumber :
  • VIVA/Sadam Maulana.

VIVA – Panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa menegaskan, The Combined Arms Life Fire Exercise (Calfex) atau latihan tembakan munisi tajam terintegrasi antar kecabangan Super Garuda Shield 2022, bertujuan untuk menimba ilmu bersama di dunia militer.

Latihan bersama yang berlangsung di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklat Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan ini pun, kata Andika, tidak ada kaitannya terhadap hubungan antara China dan Taiwan yang sedang tegang.

Panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa.

Panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa.

Photo :
  • VIVA/Sadam Maulana.

Sebelumnya, Amerika Serikat (AS) disebut memicu memanaskan situasi ketegangan antar-dua negara Asia Timur itu. China marah kepada Taiwan dan AS atas kunjungan Ketua DPR AS, Nancy Pelosi, ke pulau Taiwan yang memerintah sendiri namun diklaim China.

China menggelar latihan militer besar-besar di sekitar perairan Taiwan sebagai unjuk kekuatan bahwa Beijing tidak akan melepas Taiwan. Di saat bersamaan TNI bersama tentara AS menggelar latihan bersama di Baturaja, sejak 3-14 Agustus 2022.

"Kami (TNI) belajar, Amerika juga belajar. Ini menyangkut bagaimana mendorong Alutsista yang dibutuhkan, yang mana Australia, Singapura dan Amerika siapkan. Untuk kegiatan ini mereka kan menyiapkan anggaran masing-masing, peluru masing-masing," jelas Andika, Jumat, 12 Agustus 2022.

"Ini semua butuh waktu karena cara bekerja pemerintahnya mirip-mirip (mirip Indonesia) karena rencana anggaran tahun ini sudah direncanakan tahun lalu. Jadi tidak ada hubungannya dengan itu (ketegangan China-Taiwan)," jelasnya.

Melibatkan ratusan personel TNI dan tentara Amerika

Menurut Andika, pelaksanaan latihan ini untuk kebutuhan logistik dan persiapan memang cukup berat. Pihaknya pun, butuh waktu satu tahun dalam mempersiapkan diri. Adapun pelaksanaan latihan puncak ini, melibatkan 698 personel TNI AD, 750 personel tentara AS, dan 88 personel Australia Defends Force.

Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa meninjau latihan tempur Super Garuda Shield

Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa meninjau latihan tempur Super Garuda Shield

Photo :
  • VIVA/Sadam Maulana

Untuk persenjataan dan alutsista yang digunakan yakni meriam 105 KH 178, meriam 105 M119, heli AH-64 Apache, heli UH-60 Blackhawk, helly bell 412, Astros, Himars, MO 60, dan MO 81. 

"Ini adalah latihan ke-16 kalinya dan latihan tahun ini direncanakan pada tahun lalu. Tahun lalu kan belum ada kelihatan apa-apa (ketegangan China-Taiwan). Jadi sangat jelas, tidak ada hubungannya," kata Andika.

Andika menerangkan, bahkan keterlibatan Australia Defends Force dalam latihan tahun ini menjadi momentum baru dalam pelaksanaan Super Garuda Shield. TNI dan Australia sudah berlatih lebih dari 15 tahun secara bilateral, baik dengan AU, AD dan AL. 

"Latihan Ini dilakukan di Indonesia dan Australia juga. Jadi kalau kita undang Australia dari tadinya bilateral menjadi multinasional atau multilateral. Ini sebetulnya bukan suatu kejutan, tapi menambah kompleksitas," ujarnya.

Baginya, koordinasi bukan hanya kesenjataan infanteri, bagaimana koordinasi tentang bantuan tembakan dari kesenjataan penerbang angkatan darat, tapi juga kompi infanteri dari satuan lain. Ini merupakan nilai tambah dari latihan kali ini. Untuk latihan Super Garuda Shield kali ini, Andika menyebut sudah berjalan sukses. 

"Kita cukup sukses karena menggelar latihan menembak dengan peluru tajam. Ini dilakukan bukan hanya oleh prajurit infanteri yang menggunakan senjata perorangan, tapi juga digunakan kesenjataan lain yang tugasnya memberikan bantuan tembakan, seperti alteleri medan dengan roketnya. Menggunakan Astros oleh Indonesia dan Amerika menggunakan Himars," jelasnya.

"Lalu juga ada meriam 105 mm yang juga digunakan TNI dan US Army. Termasuk bantuan tembakan dari udara heli Apache," tambah Andika.