Politisi Sebut Erdogan Tikus Got, Turki Panggil Dubes Jerman

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan saat berada di KTT NATO di Spanyol
Sumber :
  • AP Photo/Manu Fernandez

VIVA Dunia – Kementerian luar negeri Turki pada Selasa (27/9) memanggil duta besar Jerman untuk Turki untuk memprotes komentar yang dibuat oleh seorang politisi senior Jerman yang menyamakan Presiden Tayyip Erdogan dengan "tikus got kecil".

Jerman Menyerukan Peningkatan Upaya Global Memerangi Epidemi AIDS

"Kami mengecam keras pernyataan menghina yang dibuat oleh wakil ketua Parlemen Federal Jerman Wolfgang Kubicki tentang presiden kami (Erdogan) dalam pidatonya selama kampanye pemilihan di negara bagian Lower Saxony," kata juru bicara kementerian luar negeri Turki Tanju Bilgic dalam sebuah pernyataan.

"(Kubicki) sama sekali tidak memiliki moralitas dan tanggung jawab politik," kata Bilgic.

Toni Kroos Minta Pemain Muda Contoh Cristiano Ronaldo: Dia Punya Banyak Gol dan Mobil Mewah

Jubir Kemenlu Turki itu menambahkan bahwa "pernyataan tidak senonoh seperti itu pada dasarnya memberikan gambaran tentang tingkat kedewasaan politik dan moral Kubicki, dan mengungkapkan kevulgarannya."

Saat dihubungi oleh Reuters, Kubicki mengonfirmasi bahwa dia telah membuat komentar itu selama kampanye pemilihan umum karena mencoba menarik perhatian umum terhadap peningkatan jumlah migran ilegal yang bergerak dari Turki di sepanjang jalur yang disebut rute Balkan menuju Jerman.

Gibran Bantah Anggaran Makan Bergizi Gratis Jadi Rp 7.500: Buat Anak Tidak Boleh Pelit

"Tikus selokan adalah makhluk kecil dan imut, tetapi pada saat yang sama bersifat pintar dan licik yang juga muncul dalam cerita anak-anak," kata Kubicki. Dia mengutip film animasi populer "Ratatouille" sebagai contoh.

Kubicki adalah seorang anggota parlemen dari Partai Demokratis Bebas (FDP) yang pro bisnis dan merupakan salah satu partai dalam koalisi yang berkuasa di Jerman.

Kubicki mengatakan bahwa Erdogan telah membuat kesepakatan yang baik untuk Turki ketika dia setuju untuk mengekang jumlah pengungsi yang memasuki Uni Eropa pada 2015.

"Tetapi pada saat yang sama kita harus mencatat bahwa gelombang pengungsi di sepanjang rute Balkan (dari Turki) kembali meningkat, yang merupakan tantangan bagi kebijakan luar negeri dan dalam negeri Jerman," katanya.

Turki adalah calon anggota Uni Eropa tetapi negosiasi untuk keanggotaannya telah lama terhenti di tengah ketidaksepakatan tentang sejumlah masalah termasuk soal catatan hak asasi manusia, migrasi, dan geopolitik Ankara.

Tindakan menghina presiden adalah pelanggaran pidana di Turki, di mana Erdogan dan Partai AK yang berkuasa telah memegang kekuasaan selama dua dekade. (Ant/Antara)

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya