Kampus-kampus di China Tuntut Xi Jinping Mundur dan Teriakkan Demokrasi

Polisi China bersiaga mengamankan para demonstran yang menentang penguncian ketat COVID-19.
Sumber :
  • AP Photo/Ng Han Guan.

VIVA Dunia – Memasuki hari ketiga, protes di kota-kota dan kampus-kampus di seluruh China pada akhir pekan berakhir ricuh. Warga yang frustrasi dan marah turun ke jalan, dan membentuk gelombang demonstrasi untuk menentang kebijakan "nol covid" yang dibuat oleh pemerintahan Beijing

Kemenkes: Tetap Terapkan Protokol Kesehatan Waspadai COVID-19 Varian KP.1 dan KP.2

Warga di Shanghai, kota terpadat di China, berkumpul pada Sabtu malam, 26 November 2022, dan Minggu pagi, 27 November 2022, untuk menyerukan diakhirinya penguncian pandemi. Aksi demonstrasi juga terlihat di universitas di Beijing, Xi'an dan Nanjing pada Sabtu.

"Kami menginginkan kebebasan! Buka kunci Xinjiang, buka kunci seluruh China!," teriak mereka, dikutip dari The Washington Post, Senin, 28 November 2022.

7 Fakta COVID-19 Melonjak di Singapura, Sepekan Capai 25 Ribu Kasus

Para demonstran di Beijing China membawa kertas putih memprotes pembatasan COVID-19.

Photo :
  • AP Photo/Ng Han Guan.

Dalam adegan kemarahan publik yang lebih luar biasa, yang ditujukan kepada pemimpin tertinggi pemerintah, sekelompok pengunjuk rasa di sana meminta untuk Presiden China Xi Jinping mundur dari jabatannya.

China Dukung Surat Penangkapan PM Israel Netanyahu dan Pemimpin Hamas

“Xi Jinping, mundur! dan Partai Komunis, mundur!."

“Ada orang di mana-mana,” kata Chen, seorang warga Shanghai berusia 29 tahun yang tiba di tempat berjaga sekitar pukul 02.00 waktu setempat.  

“Awalnya orang-orang berteriak untuk mencabut penguncian di Xinjiang, dan kemudian menjadi Xi Jinping, mundur, Partai Komunis mundur!,” tambahnya.

Di Universitas Komunikasi China di Nanjing, poster yang mengejek "nol covid" diturunkan pada hari Sabtu, mendorong seorang siswa berdiri berjam-jam memegang selembar kertas kosong sebagai protes. Ratusan mahasiswa besoknya bergabung dalam solidaritas.

“Dulu saya merasa kesepian, tapi kemarin semua orang berdiri bersama. Saya merasa bahwa kita semua berani, cukup berani untuk mengejar hak-hak kita, cukup berani untuk mengkritik kesalahan ini, cukup berani untuk mengungkapkan posisi kita,” kata seorang mahasiswa fotografi berusia 21 tahun, yang berbicara dengan syarat anonim karena masalah keamanan. 

“Para siswa itu seperti pegas, ditekan setiap hari. Kemarin, mata air itu bangkit kembali,” katanya.

Warga mengantre untuk tes virus corona di luar rumah sakit di Shanghai, China

Photo :
  • Chinatopix via AP

Video yang diposting di media sosial pada hari Minggu menunjukkan kerumunan mahasiswa di Universitas Tsinghua di Beijing mengangkat kertas kosong dan meneriakkan, "Demokrasi, supremasi hukum, kebebasan berekspresi!"

Melalui pengeras suara, seorang perempuan muda berteriak, “Kalau karena takut ditangkap, kami diam saja, saya yakin masyarakat akan kecewa pada kami. Sebagai siswa Tsinghua, saya akan menyesali ini sepanjang hidup saya.”

Postingan lain menunjukkan slogan-slogan protes yang dikaburkan di kampus-kampus di empat kota dan dua provinsi. Di Chengdu, sebuah kota di barat daya, video menunjukkan orang-orang berkumpul di jalanan pada Minggu malam.

“Kami tidak menginginkan penguasa seumur hidup,” teriak mereka. “China tidak membutuhkan seorang kaisar.”

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya