Ditahan Israel, Mantan Dubes AS Merasa Geli

Edward Peck
Edward Peck
Sumber :
  • AP Photo/Drew Angerer

VIVAnews - Mantan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Mauritania, Edward Peck, mengungkapkan kisahnya saat ditangkap pasukan Israel ketika ikut dalam konvoi kapal misi kemanusiaan ke Gaza awal pekan ini.

Peck mengaku geli mendengar tuduhan pelanggaran hukum yang dikenakan Israel kepada dirinya.

Diplomat yang sudah berusia 80 tahun itu diwawancara oleh stasiun televisi ABC tak lama setelah tiba di New York, Selasa 1 Juni 2010.

Tergolong "orang penting," Peck merupakan aktivis pertama yang dipulangkan secara khusus oleh Israel saat ratusan aktivis lain masih ditahan di pelabuhan Ashdod.

Peck mengaku tak habis pikir dengan alasan Israel yang menahan dirinya dan para aktivis lain. "Petugas Israel bilang ke saya, 'Anda telah melanggar hukum Israel.' Saya bilang, 'Yang mana?' Mereka bilang, 'Anda telah masuk ke negara ini secara ilegal,'" kata Peck dalam wawancara dengan ABC, yang petikannya  dimuat di laman Yehdiot Aharonot

"Saya lalu bilang, 'Saya minta maaf.' Tapi bila saya dibawa ke negara ini [Israel] di bawah kawalan bersenjata maka ini namanya bukan masuk secara ilegal. Apalagi dipaksa. Well, mereka tetap tidak setuju dengan argumen itu. Saya lalu dideportasi," kata Peck. 

Padahal, seperti yang diakui militer Israel, pencegatan konvoi itu berlangsung di perairan internasional. Konvoi enam kapal itu mengarah ke perairan Gaza, bukan Israel. Wajar bila Peck mengaku geli mendengar alasan petugas Israel itu. 

Peck bersama sejumlah warga AS lainnya ikut serta dalam armada "Kebebasan untuk Gaza" (Freedom Flotilla to Gaza) - yaitu misi pembawa bantuan kemanusiaan ke wilayah Palestina di Gaza, yang diblokade Israel selama tiga tahun.

Armada yang terdiri dari enam kapal itu dicegat pasukan komando dan kapal angkatan laut Israel di perairan internasional setelah mereka tetap bergerak menuju perairan Gaza. Aksi pencegatan itu menimbulkan insiden berdarah di Kapal Mavi Marmara dan sejumlah aktivis dikabarkan tewas oleh berondongan tembakan tentara Israel.

Menurut rilis IHH Turki, organisasi yang memotori misi ini, jumlah korban tewas mencapai 19 orang dan 50 lainnya terluka.

Bersama delapan aktivis AS, Peck saat itu berada di kapal lain, yang juga turut ditahan Israel, namun tidak sampai terjadi pertikaian seperti di Kapal Mavi Marmara. Dia menceritakan saat-saat ketika kapal yang dia tumpangi dikuasai tentara Israel.

"Saya lompat dari tempat tidur dengan berpakaian lengkap... Kemudian saya bertemu dengan sejumlah tentara komando Israel. Mereka berseru, 'Duduk!'" kata Peck.

Kendati mengalami pengalaman yang menegangkan, Peck tidak menyesal sedikit pun atas keikutsertannya dalam misi kemanusiaan itu. Menurut dia, rakyat Palestina di Gaza selama ini terlantar dan memang sangat membutuhkan bantuan.

Maka, dia pun kecewa dengan Israel yang melakukan pencegatan atas misi kemanusiaan itu.  (umi)