Jual Daging Paus di Mesin Otomatis, Perusahaan Jepang Dikecam

Daging paus.
Sumber :
  • BBC Photo.

VIVA Dunia – Sebuah perusahaan perburuan paus di Jepang mendapat kecaman dari para aktivis hak-hak hewan setelah pihak perusahaan mulai menjual daging ikan paus dari mesin penjual otomatis, sebagai paya untuk meningkatkan konsumsi publik.

Saham Asia Dibuka Bervariasi, Investor Soroti Intervensi Terhadap Mata Uang Jepang

Kyodo Senpaku, yang kapalnya memimpin armada penangkap ikan paus Jepang selama ekspedisi kontroversialnya ke Samudra Selatan, membuka mesin penyimpanan kujira (daging paus) pertamanya di dua lokasi di Tokyo bulan ini setelah uji coba yang sukses pada akhir tahun lalu.

Mesin tersebut menjual berbagai produk daging ikan paus, termasuk makanan kaleng yang berisi daging yang diimpor dari Islandia, bacon, steak, dan daging merah yang dapat dimakan mentah sebagai sashimi. Harga berkisar dari 1.000 hingga 3.000 yen atau Rp344 ribu.

Bantuan Pangan Lanjut hingga Desember 2024, Pemerintah Siapkan Anggaran Rp 11 Triliun

Daging paus dijual di pasar Jepang.

Photo :
  • Istimewa.

Meskipun daging ikan paus merupakan sumber protein pokok di Jepang selama kekurangan pangan pascaperang, namun orang yang mengkonsumsi daging tersebut menurun setelah tahun 1960 karena daging babi, ayam, dan daging sapi menjadi lebih terjangkau.

Saham Asia Kinclong Terdorong Lonjakan Tinggi Indeks Nikkei Jepang

Menurut kementerian pertanian, kehutanan, dan perikanan Jepang, konsumen mengonsumsi 233.000 ton daging ikan paus pada tahun 1962, melampaui angka daging sapi (157.000 ton) dan ayam (155.000 ton). Namun, pada 2021, rakyat Jepang hanya mengonsumsi 1.000 ton daging ikan paus.

Meski demikian, Kyodo Senpaku mengatakan penjualan awal dari tujuh mesin penjual otomatisnya di Tokyo membuktikan bahwa masih banyak orang yang menyukai masakan tradisional. "Penjualan telah melampaui ekspektasi kami, meski produknya tidak bisa dibilang murah,” kata Konomu Kubo, juru bicara perusahaan.

"Beberapa item telah terjual habis,” katanya.

Dia juga menambahkan bahwa pelanggannya adalah campuran dari orang tua dan orang muda yang ingin tahu bagaimana rasa daging ikan paus. Tetapi para juru kampanye menuduh perusahaan tersebut melakukan upaya aneh untuk menopang industri paus yang merosot di Jepang.

"Langkah pemasaran dingin ditujukan untuk meningkatkan penyerapan makanan yang berhubungan dengan ikan paus sebagai langkah lain dalam mencoba melindungi industri, dan membalikkan penurunan konsumsi daging ikan paus di Jepang," kata Konservasi Paus dan Lumba-lumba mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Melansir dari The Guardian, Rabu, 25 Januari 2023, mereka menambahkan bahwa pada tahun 2020 Pemerintah Jepang memberikan subsidi sebesar 5 miliar yen untuk menopang industri perburuan paus.

“Hanya sekelompok kecil politisi dan pemangku kepentingan industri perburuan paus yang berpengaruh, yang mendorong minat perburuan paus di negara ini,” kata juru kampanye perburuan paus kelompok itu, Astrid Fuchs.

Daging paus kemasan.

Photo :
  • The Guardian.

“Taktik penjualan terbaru ini datang pada saat agen perikanan di Jepang bertujuan untuk memperluas kuota tangkapan paus nasional dalam waktu sekitar dua tahun, dan mungkin menambah daftar spesies yang dapat dibunuh.”

Miki Yamanaka, seorang wanita Tokyo, mengatakan bahwa daging yang dia beli dari mesin terbukti populer di kalangan anggota keluarganya. “Ayah saya makan tatsuta-age [daging ikan paus goreng] dengan ekspresi nostalgia di wajahnya, dan putra sulung saya di sekolah menengah adalah penggemar steak ikan paus yang dimasak dengan kecap,” kata Yamanaka.

"Saya kembali lagi hari ini untuk membeli lebih banyak.”

Perusahaan akan membuka toko ketiga minggu ini di kota pelabuhan Yokohama, dan berencana mengoperasikan mesin di 100 lokasi di seluruh Jepang selama lima tahun ke depan.

Pada tahun 2014, pengadilan internasional memerintahkan Jepang untuk menghentikan pembantaian tahunannya terhadap sekitar 900 paus di Samudra Selatan setelah menyimpulkan bahwa perburuan tersebut, justru tidak dilakukan untuk penelitian ilmiah, melainkan untuk dimakan.

Lima tahun kemudian, Jepang menarik diri dari IWC dan mengumumkan akan mengakhiri perburuan, tetapi melanjutkan perburuan paus komersial di perairan pesisirnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya