"Pipi Monyet", Cara Bangkok Bebas Banjir

Ribuan relawan di Bangkok melakukan operasi bersih-bersih
Ribuan relawan di Bangkok melakukan operasi bersih-bersih
Sumber :
  • AP Photo/ Manish Swarup

VIVAnews - Selain berhasil menekan kemacetan dengan pengembangan kereta bawah tanah, Bangkok, Ibukota Thailand, juga telah lama berhasil mengendalikan banjir. Bangkok telah berpengalaman puluhan tahun dalam menghadapi banjir yang menimpa daerahnya.

Warganya tidak lagi perlu takut akan akan adanya banjir parah, karena ibukota Thailand ini mempunyai sistem yang disebut “pipi monyet”.

Pipi monyet adalah sistem penampungan yang terdiri dari 21 wadah penampungan air hujan. Penampungan ini dapat menampung air hujan yang berlebih hingga 30 juta kubik. Lalu pada musim panas, air ini dapat digunakan untuk keperluan konsumsi warga Bangkok, termasuk diantaranya air minum dan air keran.

“Nama ini terinspirasi dari monyet yang biasanya makan berlebih. Kelebihan makanan ini disimpan di pipinya, sehingga pipinya menggembung. Ketika nanti dia merasa lapar, dia akan memakan makanan di pipinya tersebut,” ujar Gubernur Bangkok, Sukhumban Paribatra, yang ditemui usai konferensi pers gubernur dan walikota se-Asia Eropa pada pertemuan Asia Europe Meeting, Jumat, 29 Oktober 2010.

Sebenarnya Bangkok yang terletak satu meter di bawah permukaan laut rawan terkena banjir. Ditambah lagi jika terjadi hujan lebat, gelombang tinggi dari sungai Chao Praya akan meluap hingga ke pusat kota. “Jika hujan lebat datang, aliran air dari utara membanjiri daerah Bangkok,” ujar Paribatra.

Namun, berkat sistem yang telah dikembangkan puluhan tahun lalu oleh kerja keras Raja Thailand, Bhumibol Adulyadej, ketakutan itu sirna. Raja Thailand, kata Paribatra, memiliki pengetahuan dan ketertarikan yang besar terhadap sistem pengairan dan pengendalian banjir di Bangkok. “Beliau menginspirasi sistem ini sehingga dapat bekerja dengan baik,” ujar Paribatra.

Bangkok juga memiliki tanggul sepanjang 72 kilometer dan saluran air sepanjang 75 kilometer untuk mengalirkan air yang meluap dari sungai Chao Phraya. Hal ini, ujar Paribatra, adalah sistem yang telah dikembangkan selama puluhan tahun di Bangkok.

“Sistem pengendalian banjir ini mulai dikembangkan oleh Bangkok setelah kota ini didera banjir parah 27 tahun lalu. Kala itu Bangkok tenggelam selama hampir tiga bulan,” ujar Paribatra.

Kendati sistem penanggulanganh banjir Thailand yang canggih, Paribatra tidak dapat menjamin Bangkok tidak kebanjiran lagi. “Tapi setidaknya kami dapat memastikan banjir besar seperti 27 tahun lalu tidak akan terjadi lagi,” ujarnya.