Riuh Zona Waktu di ASEAN

Ilustrasi peta kawasan ASEAN.
Sumber :
  • vstory

Pada Januari, Abdul Wahid Omar, pemimpin bursa saham Malaysia berpendapat bahwa seluruh kawasan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) sebaiknya mengadopsi zona waktu bersama, yang menurutnya GMT+8.

img_title Negara-Negara Ramai Siapkan Stok Pangan Darurat, Malaysia Minta Warganya Tak Borong Makanan

Hal ini akan "lebih mengintegrasikan ASEAN sebagai blok ekonomi yang kuat” dan menyelaraskan kawasan dengan Cina, Hong Kong, dan Taiwan, katanya dalam sebuah forum bisnis awal tahun ini.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Singapura, yang juga berada di GMT+8, secara terbuka mendukung gagasan tersebut. Ide ini pertama kali muncul dari perdana menteri Singapura saat itu, Goh Chok Tong, pada 1995, muncul kembali pada 2006, dan pada 2015, ketika Malaysia menjabat sebagai ketua ASEAN.

img_title Pertamina dan Negara ASEAN Sepakat Perkuat Ketahanan Energi, Timor Leste Ikut Ambil Peran

Mengadopsi satu zona waktu akan membutuhkan perubahan besar. Thailand, Kamboja, Laos, dan Vietnam harus berpindah dari GMT+7, meskipun Bangkok dan Hanoi pernah menyinggung ide tersebut.

Myanmar, yang saat ini berada di GMT+6:30, harus memajukan jamnya satu setengah jam.

img_title Bahlil Peringatkan Ketegangan Gara-Gara Minyak Bisa Meluas, Singgung Situasi ASEAN

Indonesia akan menghadapi tantangan terbesar. Kepulauan luas ini membentang di tiga zona waktu GMT+7, GMT+8 dan GMT+9. Pulau Jawa, di mana ibukota dan sebagian besar kota besar lainnya berada, menggunakan GMT+7.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Diskusi mengenai penyatuan seluruh negara dalam satu zona waktu GMT+8 sudah berlangsung sejak 2012, namun proposal itu berulang kali ditunda dan tak pernah diterapkan.

Saat ini, Asia Tenggara rata-rata terbagi antara GMT+7 dan GMT+8. Dan, sejauh ini pun masih belum ada jawaban yang pasti.

PM Anwar Ibrahim Komentari Sikap Gus Miftah (Doc: Malaysia Gazette)

Malaysia Waspadai Intel Israel di Negara Tetangga, Anwar Ibrahim Wanti-wanti Soal Ini

PM Malaysia Anwar Ibrahim memperingatkan potensi ancaman intelijen asing, termasuk Israel, serta dampak serangan siber dan ketegangan geopolitik terhadap keamanan nasiona

img_title
VIVA.co.id
3 November 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut