Negosiasi Putaran Pertama di Oman: Iran Tolak Tuntutan AS "Zero" Pengayaan Uranium
- ist
Kantor berita Nour Iran melaporkan bahwa pembicaraan diluncurkan dengan mandat terbatas pada isu nuklir, tetapi berbagai indikator menunjukkan adanya kombinasi jalur diplomatik dengan tekanan di lapangan.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa pembicaraan seharusnya mencakup program rudal balistik Iran, dukungan Teheran terhadap kelompok proksi regional, serta isu domestik yang ia sebut sebagai “perlakuan terhadap rakyat mereka sendiri”. Namun laporan The New York Times menyebut Washington telah setuju untuk mengecualikan isu aktor regional dari agenda guna membuka jalan bagi kerangka kesepakatan awal.
Iran tetap bersikukuh bahwa negosiasi harus berfokus sepenuhnya pada isu nuklir dan menolak perluasan pembahasan ke program rudal atau situasi dalam negeri, yang menjadi salah satu hambatan utama di tengah ancaman konflik regional yang masih membayangi.
Respons Internasional
Juru bicara Gedung Putih Caroline Levitt pada Kamis mengatakan Presiden AS Donald Trump menunggu hasil pembicaraan untuk menentukan langkah selanjutnya, seraya menegaskan bahwa Washington memiliki "banyak pilihan" selain jalur diplomasi. Dalam beberapa pekan terakhir, Trump juga meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan ancaman tindakan militer di tengah gelombang protes domestik.
Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menyatakan Teheran mengikuti pembicaraan dengan tujuan mencapai "pemahaman yang adil dan saling dapat diterima". Araghchi sendiri memperingatkan bahwa Iran tetap berada dalam "kesiapan penuh" untuk mempertahankan kedaulatan dan keamanan nasionalnya dari tuntutan berlebihan.
Sejumlah pemimpin dunia menyampaikan optimisme yang hati-hati terhadap peluang diplomasi. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan para pihak tampaknya ingin memberi ruang bagi dialog dan menekankan bahwa perang langsung bukanlah solusi.
Kanselir Jerman Friedrich Merz juga mendesak Iran untuk benar-benar masuk dalam inti negosiasi, sambil memperingatkan risiko konflik jika eskalasi militer terus berlanjut.